Thursday, 4 December 2014

You Called Me "ToU"




Last night, someone told me about You, describe You, everything ... I'm so wondering in my mind. Never imagine that will be happened with You, almost denied whatever he said. But I knew, how's he so close with you than me lately. He never know about us.

Tuesday, 2 December 2014

Saturday, 29 November 2014

Wednesday, 26 November 2014

Cerita Sahabat "CR?" --Part Three--


         “Rara, berangkat ke kantor jam berapa ?” terdengar pintu kamarku diketuk pelan, suara halus membangunkanku. Sinar matahari masuk diantara gorden jendela menyilaukan mataku. Upsss jam berapa ini ?
         “Iya Mom.” teriakku serak.
         “Dave tadi telepon, titip pesan apakah handphonenya kebawa kamu tidak?” Mamaku mulai berteriak.
         “Iyaaaaa, nanti aku telepon Mom, handphonenya memang kebawa aku semalam.” Jam 08.15 … Wah kok bisa kesiangan begini. Sedikit pusing, aku bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Kubasuh mukaku dengan air dingin, segar … Agenda hari ini apa ya? Pikirku.

         Kupilih baju berwarna lembut pagi ini, rok selutut warna hitam, dengan atasan bahan katun berwarna  hijau pupus dengan balutan  syal kecil warna orange. Manis, pikirku. Handphone Dave tergeletak di sisi  bantal, off. Kuperhatikan dalam-dalam, ada segurat kepedihan yang masih membekas. What should I do ?
         “Masih cape, Ra? Lelap sekali tidurmu. Dari jam 6 Mama bangunkan, ga ada jawaban sama sekali.” tanya Mama sambil memberikan roti bakar kesukaanku.
“Iya Mom, aku penat sekali, semalam ga langsung tidur, ada beberapa laporan yang harus aku siapkan.” seteguk orange juice mampir di tenggorokanku, terasa hangat.
“Agenda apa hari ini ? Ga ada meeting pagi ?” Aku menggeleng.
Report aja Mom, sehabis makan siang.”
“Mom, sepertinya pertemuan Sabtu ini kita tunda dulu.”
Wajah Mama tersentak kaget. “Kenapa ? Mama udah reserve tempat sesuai pembicaraan dengan Jeng Santi, terus Mama sudah undang keluarga terdekat kita.” Aku terdiam. Memang, waktu tinggal dua hari, begitu pendek dengan kejadian yang beruntun beberapa hari ini. Aku berpikir keras untuk mengutarakan alasan yang tepat, tapi apa ? Menceritakan yang sebenarnya terjadi ? No way.
“Coba aku bicarakan dulu dengan Dave, Mom.” nafasku berat. Gigitan roti dimulutku terasa keras, kunyahanku tertahan. Tubuhku beranjak dari kursi, satu ciuman kecil mendarat di pipi Mama. “Rara pergi dulu, agak telat pulang nanti malam, Rara janji ketemu Dave.” Izinku. Mama mengangguk, matanya menunjukkan sejuta pertanyaan besar padaku. Aku menghindari tatapan Mama, menghindarkan linangan air mata di pelupuk mataku.
“Hati-hari, Ra.” Aku mengangguk.
****
Jam 9.45 ketika aku tiba di lobby gedung kantor. Tepukan dibahuku membuatku menoleh ke belakang dengan sedikit kaget.
“Morning sayang.” satu senyuman merekah di belakangku.
“Hadeh, kupikir siapa ..!”
“Memangnya ada yang berani tepuk-tepuk begini selain aku ?” balasnya sambil cemberut. Aku tersenyum sambil memijit tombol lift dihadapkanku.
“Handphonemu kebawa semalam, sorry.”
“Ga apa-apa, aku juga ga ngeh semalam, sampai tadi pagi baru ingat.” Langkahnya mengikutiku masuk ke dalam lift. Kuserahkan handphonenya, sambil berkata : “aku ga sempat charge, bangun kesiangan.”
“Nanti aku ikut ngecharge bentar deh di ruangan ya ..! Aku mengangguk. Lantai 17, lift terbuka, aku bergegas ke luar lift. Ada perasaan ga nyaman, Dave pasti tahu pesannya sudah dibuka, karena  pesan itu tidak aku hapus.
“Rara, ada surat di meja, tolong dipelajari dan langsung buat memo ke Pak Idris.”  Satu suara dari intercom terdengar.
“Oke, jadi jam berapa aku ketemu Pak Idris, sekalian aku antar report Bali kemarin.”
“Jam 13.30, di ruang meeting kecil.
“Ok”.
Kulihat Dave memperhatikan handphonenya, jarinya bermain di atas keypad. Aku menunggu. Dan mata Dave mengarah ke mataku tajam. Aku diam.
“Kamu membacanya, Ra?” suaranya sedikit keras.
“Ya, kamu keberatan ?” jawabku balik tanya.
“Ya.” jawabnya pendek.
‘Kenapa ? Diantara kita tidak pernah ada yang dirahasiakan tentang isi pesan. Apalagi pesan itu dikirim tengah malam, seperti keadaan darurat, berulang kali pesan itu berbunyi,  wajar aku baca, kupikir ada musibah”
Dave tidak menjawab. Mukanya sedikit memerah.
“Dave, maaf, aku masih banyak pekerjaan, kita bicara setelah jam kantor di tempat biasa.” Lanjutku.
Tubuhnya beringsut dari sofa di depanku, dan melangkah ke pintu tanpa berkata-kata. Aku tertegun dan bertanya dalam diri, seperti itu ? Kuhempaskan badanku di kursi kerjaku, tanganku menutup wajah … Ya Allah, apa yang sebenarnya sedang terjadi ? Kemana lagi aku harus bertanya dan mencari kebenaran selain kepada Mu ?  Tunjukan padaku apa yang benar dan apa yang salah. Jika Dia memang baik untukku, mudahkan dan lancarkan rencana kami, jika dia memang tidak baik untukku, berikanlah jalan untuk menjalani silaturahmi dengan cara lain.  Aku mulai terisak. Tak pernah sejauh ini aku membawa persoalan pribadi di antara setumpuk pekerjaan di meja kerja kantorku. Ingin rasanya aku berlari pulang, berteriak dan membenamkan wajahku di atas bantal basah karena air mata.
Kutarik nafas dalam-dalam, tiga lembar tissue menyeka air mataku. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin, aku tidak ingin sekelilingku melihat keadaanku seperti ini. Berat memang, tapi apapun harus aku hadapi.
Kertas di hadapanku masih terlihat kabur, kubaca, kuperhatikan dan kucoba untuk memahaminya dengan baik. Tak terlalu sulit sebenarnya, tapi aku perlu konsentrasi untuk mengurai kata membuat memo pendek untuk Pak Idris.  Konsentrasiku kembali buyar, ketika dering handphone berbunyi nyaring. Kuraih handphone di depanku, Mama Santi.
“Assalamu’alaikum Ma, apa kabar ?”
“Waalaikumsalam Rara, baik. Rara sudah di kantor ?”
“Sudah Ma, semalam baru tiba di Jakarta.”
“Syukurlah. Mama baru saja terima telepon dari Dave.” Jantungku berdegup.
“Iya Ma, gimana ?” tanyaku.
“Dave bilang katanya pertemuan Sabtu diundur.” Nafasku seolah terhenti, nyaris tak kujawab perkataan Mama Santi.
“Ada apa Ra?” tanya di sebrang sana.
“Iya Ma, ada beberapa hal yang harus kami bicarakan lebih matang. Rara baru mau telepon Mama setelah makan siang rencananya.”
“Kalian baik-baik saja kan, Ra?” suaranya sedikit khawatir. 
“Ga ada apa-apa kok Ma, kami baik-baik saja” Suaraku melemah, air mata kembali kembali berkumpul di pelupuk mataku. Ya Allah, teriakku dalam hati.
“Tolong kabari Mama kalau ada apa-apa.”
“Baik Ma, terima kasih, assalamu’alaikum.” tak terdengar jawaban, kututup telepon perlahan. Untuk sementara aku perlu off kan telepon, sampai pekerjaanku selesai. Tinggal satu jam aku mempunyai waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dihadapanku, dan aku rasa, aku lebih baik keluar kantor lebih cepat setelah urusan dengan Pak Idris selesai.
Makan siang tak sempat kusentuh, memo sudah kutandatangani. Aku periksa laporan perjalanan terakhirku, masih tersisa 20 menit sebelum meeting dengan Pak Idris, cukup untuk Sholat Dzhuhur dan merapikan diri.
“Des, tolong print dua kali  laporan perjalanan yang tadi untuk tambahan, sekalian dokumentasinya siapkan juga. Saya sholat dulu.” Kataku pada Desi, ketika langkahku melintas di mejanya.
“Baik Bu. Ibu belum makan siang, saya sudah siapkan snack untuk rapat nanti.” 
Aku mengangguk, “Terima kasih, nanti tolong dampingi saya juga.”
Desi tersenyum seraya mengangguk. Kulanjutkan langkuku ke Mushola tak jauh dari tempat Wudhu. Semoga aku diberikan kemudahan dalam segala urusanku. Bismillah …
Tak perlu lama-lama meeting dengan Pak Idris. Sejak dua tahun yang lalu, urusan Public Relation memang sangat dipercayakan padaku. Jarang sekali aku dengar Pak Idris mengeluh atas apa yang aku kerjakan, Beliau sangat percaya padaku. Memoku cukup ditambah tanda tangan Pak Idris di sebelah kanan tanda tanganku, dan laporan perjalanan cukup di paraf dan siap ditindaklanjuti. Untung aku sempat mengirimkan loporan global sehingga aku tidak perlu terlalu rinci menerangkannya.
Lega rasanya.
Kuhidupkan handphoneku yang sempat beberapa jam off. Mejaku mulai bersih, laptopku masih terbuka dengan beberapa tab. Handphoneku mulai ramai dengan bunyi-bunyi pesan yang berbenturan. Kebayang, ada BBM, Whatsapp, LINE, email, dan lain-lain, hmmm nambah kerjaan saja.
Kubuka LINE, ada beberapa pesan di sana.
“HP mu off, kenapa ? Aku ingin bicara sebentar.”
“Tolong sebelum rapat dengan Pak Idris telepon aku.”
“Ok, aku coba hubungi kamu ke kantor, masih meeting. Aku tidak bisa ketemu nanti sore, kita atur besok siang sesudah jum’atan.”
Aku menghela nafas panjang. Baguslah, agar aku bisa mempersiapkan pembicaraan dan langkah-langkah selanjutnya. Aku perlu waktu sendiri.  Pertemuan hari Sabtu yang sekiranya akan membicarakan tanggal pernikahan menurutku memang menentukan 99% pernikahan itu terjadi. Aku tidak ingin membuat satu keputusan yang akan meninggalkan persoalan di masa-masa yang akan datang.
“Bu, telepon di line 3, dari Pak Dave” suara Desi lewat intercom  mengagetkanku.
“Oke.. thanks.” jawabku. Kutarik gagang telepon di samping mejaku.
“Halo.” Suaraku kubuat se’biasa” mungkin.
“Sudah kelar rapatnya ?” datar.
“Baru kelar. Sorry hp sengaja aku off kan, kerjaanku ga kepegang.”
“Aku sudah bicara dengan Mama, kita tunda pertemuan hari Sabtu. Aku tidak sempat membicarakannya denganmu dulu, tapi aku rasa kamu pun memikirkan hal yang sama.”
“Ya, Mama sempat telepon sebelum rapat tadi dan memang aku berpikiran seperti itu juga. Ada hal-hal yang harus kita bicarakan, Dave. Terserah waktunya kapan, aku ngikut saja.”
“Aku atur besok, kalau kamu tidak keberatan, hari ini aku harus meeting dengan client dari Surabaya.”   
“Oke, kita atur besok.”
Tiba-tiba perasaanku sedikit ringan.
***
            Mendung sore ini ketika kususuri jalan sepanjang Sudirman menuju Senayan City, lalu lalang orang di sekitar tidak membuatku mengalihkan perhatian dari tatapanku ke trotoar jalan, seolah aku takut memandang orang-orang.  Aku perlu menikmati waktku.
         Portico, café ini menjadi tempat favoritku untuk menikmati segelas kopi panas dan menemaniku menyelesaikan tugas-tugasku atau sekedar kongkow dengan teman-teman. Belum terlalu ramai sore ini, masih jam 16.30. Kubuka laptop, kuketik password, satu kata berisi satu nama dan empat angka sebagai symbol, done … Tanganku menopang dagu, mataku memandang ke arah jalan yang mulai dibasahi oleh rintik hujan. Adem …  Mataku terpaku pada dua bayangan yang semakin jelas terlihat, seorang laki-laki dengan dengan payung di tangan kanannya dan di sebelahnya seorang perempuan menggelayut di lengan laki-laki itu. Terbelak aku memandangnya, kugigit bibir menahan sesuatu yang mengganjal dalam dadaku. Kubalikkan badan dan berdoa semoga kedua orang itu tidak masuk ke tempat ini.
         “Cari meja duluan di luar, aku titip payung dulu.” satu suara terdengar begitu jelas di belakangku.
         “Smoking ya …!’ balasannya terdengar.
         Aku mengenal dengan baik suara itu. Ada dua pilihan yang datang, pergi dari tempat itu atau tetap bertahan dan akan mendengar apa yang mereka bicarakan.  
         Ruangan di bagian luar Portico memang disediakan untuk “smoking area”, terasa dingin dengan hujan yang mulai deras. Mejaku tepat di sudut kanan ruangan, lebih dekat ke jendela, lebih dingin, kuambil jaket di sebrang meja, kaku. Sudah tak ada pilihan lain, selain bertahan di sini, aku rasa mereka telah memilih tiga meja di belakangku.
         “Aku belum sempat bicara banyak dengan Rara, hanya garis besarnya sudah aku sampaikan tadi.”
         Suara di belakangku itu sangat jelas terdengar.
         “Ada comment?” pertanyaan dari wanita itu.
         “Tidak, aku atur pertemuan dengannya besok siang.”
         “Apa tidak terlalu cepat kita mengambil langkah, aku merasa tidak enak, sejak aku bicarakan tentang kita beberapa yang lalu, almost two  days kami tidak ada komunikasi lagi.”
         “Menurutku tidak, lebih cepat lebih baik, aku tidak ingin memperlebar urusan.”
         “Mau minum apa, Lis ?”
         “Yang hangat-hangat deh, tadi siang aku ga sempat makan, kita pesan yang agak berat aja, biar aku pulang ga makan lagi.”
         Aku tersenyum getir, ini client dari Surabaya ?
         “Dave, apa Rara akan mengerti dengan kondisi kita ?”
         “Maksudnya ?”
         “Dengan kondisi kamu menikah dan kita tetap menjalani hubungan kita ?”
         “Apa mungkin aku harus jujur padanya, kalau kita tetap lanjut walaupun kami menikah ? Ga mungkin !!  Aku hanya tak habis pikir dengan  tindakanmu membicarakan hubungan kita padanya.” sedikit ketus suara itu kudengar.
         “Sorry, seharusnya aku tidak menyebut nama waktu itu, sempat aku melihat raut kaget di wajahnya, tapi hanya sesaat, dan kupikir sebenarnya dia sudah tahu.”
         “Dari awal aku sudah bilang, dia tidak tahu, sampai kamu mengatakan semuanya, sekarang mau gimana lagi ?”
         “Seharusnya aku menerima lamaranmu dulu …” suara Lisa terdengar seperti bisikan, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Jantungku berdegup kencang, hampir saja aku membalikkan tubuhku ke arah mereka.
         “Seharusnya aku tidak membiarkanmu untuk mendekati Rara … yang aku rasakan, setelah kamu bersamanya, perasaanku untuk bisa terus bersamamu semakin besar.”
         “Lis, aku tidak mau berkilas balik tentang itu, semua yang terjadi adalah kesepakatan kita. Aku sudah cukup jujur selama ini, kecuali kamu yang tidak jujur. Sampai pada satu titik, aku harus memilih antara kamu dan Rara, kamulah yang pertama aku  minta sebagai istriku, kita telah saling mengenal, ternyata kamu telah menganggap hubungan kita sebagai teman biasa dan kamu lebih merelakan aku pergi untuk bersama Rara, itu aku terima.”
         “Coba kita renungkan, apakah hubungan kita selama ini membodohi Rara atau tidak. Kita yang tahu, Lis. Mungkin akan lain jadinya jika kamu tidak bicara kepadanya.”
         Tak ada jawaban terdengar dari Lisa, tak ada suara apapun darinya. Aku tak tahu apa yang dia lakukan. Kalau Dave tidak bicara, artinya mereka akan tetap melanjutkan hubungan ? Perih rasanya, sangat beruntung aku mengetahui semua sebelum pernikahan terjadi.
         “Dan dua minggu yang lalu, kamu minta aku menikahimu, itu semua tidak ada dalam rencanaku. Kamu yang telah membiarkan aku memilih Rara, mencintainya, dan memberiku kekuatan untuk menikahinya. Dan  aku kembali pada komitmen kita, kita casual, kamu tidak bisa menerimanya sehingga kamu menceritakan semuanya kepada Rara. Sekarang semuanya berantakan. Aku ga yakin, Rara akan menerima, dan aku ga tahu apa yang akan dia lakukan.”
         “Seharusnya handphonemu tidak terbawa sama dia.” teriakan kecil terdengar.
         “Mana aku tahu kalau handphoneku kebawa, aku pikir handphoneku mati.”
         “Jadi sekarang bagaimana ?”
         “Aku bingung. Aku harus ketemu dan bicara dengan Rara besok. Pembicaraan kami sepertinya akan menentukan langkah selanjutnya. Hanya dua kemungkinan kan, terus berjalan dengan memperbaiki atau break up.” suara Dave terdengar pelan.
         Sekarang, aku lebih paham bagaimana perjalanan mereka. Suara dentingan terdengar, menghentikan pembicaraan mereka sementara. Sebenarnya aku sudah tidak kuat mendengarnya, aku hanya ingin tahu bagaimana mereka mengakhiri pembicaraan ini. Ku ambil handphone di tas kerjaku, dan ku silent  untuk menghindarkan telepon masuk yang akan memaksaku untuk berbicara.
         “Aku memikirkan tentang kita.” suara Dave memecahkan keheningan di antara mereka, Aku memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kita jika aku menikahi Rara.” Jantungku berdebar kencang.
          “Aku sayang kamu, Lisa, dan aku bisa pastikan semua akan berlangsung meskipun aku bersama yang lain.”
         Emosiku mulai naik, mataku panas. Munafik, gombal!! Aku sudah sampai pada keputusanku. Aku tidak ingin mendengar kaliamat selanjutnya. Kalimat terakhir Dave telah memberikan sinyal kemana arah pembicaraannya. Tanganku bergetar meraih barang-barang di meja, merapikannya, dan memasukkan ke dalam tas kerjaku. Kutarik nafas panjang, menenangkan debaran jantungku yang semakin keras. Tidak ada air mata yang terurai meskipun mataku terasa panas.  Aku berdiri, tanganku masih menggenggam sudut meja, perlahan kubalikkan badanku, melangkah ke arah dua manusia yang duduk membelakangiku.
         “Hai.” suaraku halus menyapa mereka.
         “Rara !!” hampir bersamaan mereka menjawab sapaanku. Dave bangkit dari kursi, dan mengajakku duduk. Kutolak halus, aku berdiri di sisi meja. Lisa tertegun menatapku.
          “Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian, dari sejak kalian datang. Aku bersyukur, aku tidak mendengar dari mulut orang lain.”
         “Ra, biar aku jelaskan dulu.” sela  Lisa. Aku tersenyum, cukup getir rasanya.
         “Aku pun sudah memahami bagaimana hubungan kalian, dulu, sekarang dan akan datang. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semua sudah cukup.”
         “Dave, hubungan kalian begitu indah, bisa saling membagi, menyerahkan diri pada orang lain, sedangkan hati masih tertinggal pada yang lain. Menjalin dua rasa dalam satu masa pada orang yang berbeda, belum pernah aku jalani, dan semoga tidak pernah  aku jalani.”
         “Rara, tidak begitu, biar kami jelaskan.” Dave terlihat resah, dan Lisa mulai terisak.
         “Lisa, sebelum kamu mengirim pesan di handphone Dave, hampir saja aku mengirim email hanya untuk membesarkan hatiku, bahwa hubungan kalian adalah masa lalu dan persahabatan kita adalah segalanya. Tapi sejak aku baca pesanmu dan mendengar semua pembicaraan kalian, baru aku sadar bahwa hubungan kalian bukan masa lalu, tidak akan pernah berakhir dan aku menghargai apapun hubungan kalian.” suaraku sedikit tegar, tanpa getaran, tanpa isakan, dan datar.     
“Dave, maaf aku tidak bisa melanjutkan rencana-rencana kita. Aku tidak sanggup membangun satu kehidupan di antara duri,  lebih baik aku menjauhi duri yang akan mengoyakku.”
         Lisa bangkit dan mencoba meraihku. Aku bergerak mundur.
         “Maafkan aku, Ra, tidak ada niat sedikitpun untuk menyakitimu, semua diluar kehendak kami.”
         “Aku tidak sakit hati Lis, kalian telah menolongku membuka mata hatiku tentang apa yang terjadi. Jalani hidup kita masing-masing, tak ada yang perlu dijelaskan dan disesali, semua diluar kehendak kita. Dave, kita cukup dewasa untuk menerangkan kepada keluarga apa yang terjadi dalam hubungan kita, bicaralah baik-baik atas ketidakcocokan kita.”
         Kubalikkan badan dan melangkah ke pintu keluar. Masih terdengar panggilan Lisa dan suara langkah Dave yang menyusulku, kuminta Dave untuk tidak mengikutiku. Aku tak perduli. Aku ingin meneriakan kekecewaaan yang menggumpal didadaku.
Aku hanya ingin pergi dari sini, aku tidak ingin mencerna apa yang telah terjadi dalam detik-detik terakhir tadi. Bagaimana aku harus melupakan seseorang yang hampir menjadi suamiku, melupakan sahabat kecilku yang selama ini selalu hadir disaat-saat aku berkeluh kesah ? Tuhan,  inikah ujian yang harus aku lalui, di saat aku telah menentukan apa yang aku inginkan, mencoba menggapai angan dan harapan yang  nyaris aku gapai ? Bagaimana aku menata hati dan menjalani sesudah ini terjadi? Hikmah apa di balik semua ini ?
***
Dear Diary,
Ternyata aku tidak cukup mengenal lelaki yang hampir dua tahun ini mendampingiku, memberikan harapan tentang hari esok yang akan dilalui bersama dengannya. Ternyata tak cukup indah kata dan kalimat yang terurai dibanding dengan perbuatannya. Semua hanya bagian dari episode hidup yang aku jalani di antara skenario yang tak pernah aku ketahui.
Hidup adalah pilihan,
Dan aku memilih tidak menyakiti diri sendiri karena aku tak sanggup menerima luka demi luka.
Aku lebih sanggup hidup sendiri menuai asa, tanpa yang lain melukaiku.
Dan itulah kesendirian.
Episode Agustus 2013.
#Catatan sahabat ini masih aku simpan, untuk aku urai menjadi sebuah cerita. 

Monday, 24 November 2014

Saturday, 22 November 2014

Friday, 21 November 2014

Cerita Sahabat "CR?" -- Part Two --

Langkahku gontai menuruni tangga pesawat, rintik hujan mulai turun membasahi ujung tangga. Selama dua hari di Bali, pikiranku sedikit terganggu mengingat pembicaraanku dengan Lisa. Sampai hari ini, Lisa masih menghubungiku dengan permasalahan yang sama, tapi untunglah kelihatannya sudah mulai bisa berpikiran jernih. Justru aku yang belum bisa berpikiran jernih untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Rara …!” satu suara membuyarkan pikiranku. Aku mencari sumber suara yang sangat aku kenal, halus dan sedikit sexy, upss….

“Hai, lama nunggunya ya, maaf ga sempat bilang kalau delay hampir setengah jam.” jawabku. Sosok tegap itu sudah di depanku, dan tangannya menarikku dalam pelukan hangatnya. Sampai detik ini, aku masih merasakan kenyamanan pelukannya.
“Basah begini, ga minta petugas untuk siapin payung.” gerutunya. Aku tertawa, “yang lain juga kehujanan, masa aku aja yang minta.”
Kami melangkah di antara hujan yang mulai reda, tangannya terulur menarikku untuk lebih cepat berjalan. “Hujan begini bisa lebih cepat buat sakit… “ katanya. Dengan sedikit meringis, kuikuti langkahnya menuju mobil yang tak jauh dari terminal. Badanku memang terasa dingin, tanganku mencari tissue di kursi belakang, AC mobil mulai dihangatkan, kami melaju ke luar bandara Soekarno Hatta.
“Kita makan dulu ya.” ajaknya. Aku mengangguk.
Anganku mulai kemana-mana. Berpikir apakah harus kuceritakan tentang Lisa kepada Dave ? Apakah ini waktu yang tepat untuk bicara ? Jujur, sebenarnya aku masih sangat penat, tapi aku tidak bisa menunda  untuk berbicara dengan Dave. Tapi apakah aku bisa menerima semua penjelasan dan akibatnya ? Bingung, bener-bener bingung.
“Sayang, kok diam begitu ?  Gimana acara kemarin ? Sempet jalan-jalan di sana ?
“Enggak apa-apa… dingin. Acara oke, meskipun sedikit boring, dan seperti biasa, materinya membosankan karena itu itu saja. Kemarin sempat dinner, after that aku jalan ama Mona dan Frans, cari angin berbau pantai.” kataku. Kupalingkan mukaku ke arah kaca kiri yang tertutup embun, suaraku sedikit datar.
Anything oke ? tanyanya lagi.
 Aku tersenyum kecil. “Kok nanyanya gitu sih…” balasku.
“Agak aneh hari ini. Oya kemarin aku sudah bicara dengan Mama untuk rencana kita, Mama mau mengajakmu makan siang Sabtu depan.” Nafasku tertahan.
“Sedikit cape … iya, Mama sempat BBM kemarin, aku atur untuk acara itu, siapa saja yang ikut ?”
“Belum tahu, ga usah rame-rame, kita ambil yang inti saja.”
Sepertinya, memang saat ini adalah waktu yang terbaik untuk bicara dengan Dave, sebelum hari Sabtu. Masih ada sisa waktu tiga hari agar Dave bisa berpikir.
“Yuks … jangan melamun saja.”
Kugandeng lengan Dave untuk menetralkan suasana, tapi masih tetap saja aku merasa “dingin”. Meja di sudut taman sepertinya cocok untuk bicara, tamu restoran belum begitu banyak, suara musik lembut  bisa sedikit menahan emosiku yang mungkin sedikit naik nanti. Pusing sendiri memikirkan itu.
“Pesan apa Dave, sepertinya yang berkuah oke ya ..” tanyaku.
“Aku sop iga dan wedang jahe.”
“Kalau gitu aku pesan soto betawi dan teh hangat.” sambil menuliskan pesanan di secarik kertas warna kuning. Kupanggil pelayan dan kuserahan pesanannya.
“Ra ..”
“Yups …”
“Ada yang ingin aku ceritakan padamu.”
Mata kami bertemu. Ada sedikit keresahan yang terpancar dari matanya. Batinku bertanya-tanya, apakah sama dengan apa yang ingin aku bicarakan ?
“Ada apa ?” tanyaku. Pelan, menenangkan batinku.
“Mungkin akan membuatmu kaget dan marah.”
Keningku berkerut. “kok bisa ?”
“Semua salahku, aku tidak jujur.”
“Coba ceritakan.” Berdebar hebat jantungku, dudukku tak tenang, jemariku saling bermain.
“Lisa sudah bicara semuanya kemarin. Dia menghubungimu beberapa hari yang lalu, dan bercerita tentang kami.”
Ternyata cukup gentle  juga ….
“Seharusnya aku bicara padamu jauh-jauh hari.”
“Itu tak mungkin kamu lakukan, Dave. Dan kalau Lisa tak bicara tentang pertemuanku dengannya, aku ragu kamu pun akan bicara padaku.” Jawabku tajam.
“Tidak begitu Ra, aku memang harus bicara kepadamu.”
“Kapan ? Setelah semuanya terbuka ? Tak ada sedikit pun dalam pikiranku kalau kamu ada hubungan dengan Lisa, dan posisinya, aku hadir setelah Lisa. Kamu tahu sedekat apa aku dengan dia, teganya.”
“Rara, tidak begitu kejadiannya.”
“Apakah yang disampaikan Lisa kepadaku bohong ? Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk menjalani hubungan tanpa status seperti itu, kamu benar-benar telah mempermainkan dia.”
“Rara, dalam satu hubungan, masing-masing mempunyai cara tersendiri untuk mentreat, begitu juga aku dengan Lisa. Lisa terlalu berpikiran jauh, banyak waktu bersama dengannya, tak pernah kami  bicara tentang komitmen apapun. Dia wanita modern, berkarir, sukses, dan supel, paham sekali dengan ciri-ciri hubungan kami.”
“Tidak semua wanita modern paham dan mau melakukan hubungan macam itu. Lihat-lihat dulu lah, jangan mengeneralisasi. Kamu cukup pintar juga untuk memilih siapa yang ingin kamu kencani.” suaraku mulai meninggi. Hatiku mulai terasa sakit.
Pelayan datang dengan pesanan kami. Pembicaraan kami terhenti, mulutku terkunci, tak ada selera makan lagi. Dave merapikan piring-piring di meja, menatapkau … “makan dulu.” Kuraih sendok garpu tanpa kata, soto betawi yang biasanya bisa menambah nafsu makan, sekarang seperti satu mangkuk air putih dengan daging di dalamnya, tanpa rasa. Hening. Dave pun sepertinya merasakan hal yang sama, suapannya lambat, sesekali matanya menatapku, sesekali tangannya menyentuh jariku. Aku tak bergeming.
Inilah jawaban yang aku tunggu sejak dua hari yang lalu. Kami memang tidak pernah membicarakan hal-hal yang penting melalui telepon, semua diselesaikan dengan bertemu dan berdiskusi. Sengaja tak kuusik tentang pertemuanku dengan Lisa, aku butuh konsentrasi di Bali. Selama dua hari itu pun, aku tidak mempersiapkan pertanyaan dan jawaban, ataupun kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi jika kami berbicara tentang Lisa.
Makanan pun tersisa, kuteguk teh yang mulai hangat. Kami masih terdiam, sampai kapan ?
“Apa yang harus kuceritakan tentang kita kepada Lisa ? Kenapa harus Lisa ? Kenapa bukan teman-teman wanitamu yang lain ? Aku tak bisa membayangkan bagaimana hubunganku dengan Lisa selanjutnya.”
“Lisa sudah mengetahui hubunganku denganmu sejak kita berhubungan dan Lisa sudah mengetahui bahwa kita akan menikah.”   
“WHAAAT!!” kataku setengah berteriak. Nafasku rasanya terhenti. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku mengenal Dave pada saat dia masih menikah dengan Mbak Anggi, dan kami mulai berhubungan dengan Dave tiga tahun sejak perceraiannya. Hubunganku dengan Mbak Anggie baik, dan Mbak Anggie tahu tentang hubungan kami. Lisa dan Dave  pernah bekerja di satu kantor yang sama, sampai akhirnya Dave pindah ke perusahaan lain dan aku pun tahu mereka masih berhubungan. Tak pernah sedikitpun aku berpkir di antara mereka ada hubungan khusus.
Selintas dalam benakku, apakah aku atau lisa yang dikhianati.
Memang benar, di antara aku, Lisa, dan Dave tidak pernah bertemu dalam waktu yang sama, dan sampai kejadian kemarin, aku tidak pernah bercerita tentang Dave kepada Lisa. Tapi Lisa mengetahui hubungan kami ? Apakah aku harus marah, malu atau senang ? Benar-benar tidak masuk akal. Pikiranku berkecamuk dengan pertanyaan dan jawabanku sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi ?
“Iya Ra, Lisa tahu semuanya.”
“Bagaimana kamu bisa melakukan ini, Dave ?”
“Lisa mulai berubah sejak mengetahui hubungan kita. Dia lebih posesif  dan meminta lebih. Awalnya aku ikuti, dengan pegangan tidak melebihi batas.”
“Batas apa?” tanyaku sinis.
“Kita sama-sama dewasa Ra, tidak perlu aku jelaskan dengan detail.  Semua terjadi antara aku dan Lisa sebelum kamu ada, dan aku sudah menghentikan semuanya sejak aku melamarmu.”
“Bisa ?” Rasanya krisis kepercayaan mulai melandaku, ini sangat mengganguku.
“Apa perlu kita bertemu bertiga ?’ tanya Dave, suaranya mulai meninggi. Tak kujawab pertanyaannya.
“Dengar Rara, Lisa bicara tentang Causal. Dia paham sekali tentang hubungan seperti itu. Justru aku agak aneh ketika dia menanyakannya padamu. Aku punya masa lalu, biarkan berlalu.”
Dave termasuk populer di kalangan owner bidang property di Jakarta. Dia terkenal dengan kepiawainnya bernegoisasi, bersosialisasi untuk mencapai target market perusahaan. Perusahaan-perusahaan berani membayar mahal menculik Dave dari kantor-kantornya yang lama, sehingga pihak perusahaan harus mempunyai komitmen yang kuat untuk menahan Dave agar tidak lari ke perusahaan lain.
Beberapa catatan yang kuketahui tentang masa lalu Dave. Di usia 6 tahun pernikahannya, Mbak Anggie meminta cerai karena tidak bisa memberikan keturunan, permintaan itu ditolak Dave, sampai akhirnya di usia 8 tahun pernikahannya, Dave menuruti keinginan Mbak Anggie, dan mereka bercerai baik-baik. Sejak itu terdengar cerita-cerita kehidupan pribadi Dave dengan beberapa wanita. Tahun ini, genap 4 tahun Dave bercerai.  
Terbayang dalam pikiranku, bagaimana hubungan Dave dengan wanita-wanita  itu terjalin. Boleh dibilang, Dave punya segalanya, dia bisa memilih wanita mana yang ingin dia ajak hang out, traveling, apalagi hanya untuk lunch dan dinner,  and next ? Entahlah … Tak kudengar ada gossip tentang hubungan Dave dengan wanita secara serius, sampai akhirnya kami menjalin hubungan dan Dave mulai memperkenalkanku kepada rekan-rekan kerja, teman-teman, dan keluarganya sebagai calon istri.
“Rara ..” tangannya menarik jemariku. “Bicaralah ..”
“Kesalahanku adalah meneruskan hubungan dengan Lisa, meskipun telah ada kamu, tapi aku tidak pernah mengkhianatimu. “Aku mengakui hubunganku dengan Lisa, tidak ada komitmen apa-apa, sampai akhirnya Lisa menanyakan kelanjutan hubungan kami, aku jawab apa adanya, aku tidak bisa, karena aku telah memilihmu, aku akan menikahimu” lanjutnya.
Aku masih terdiam. Ingin rasanya aku tanyakan sejauh mana hubungan  Dave dengan Lisa ketika aku ingat bagaimana Lisa menyebut “hubungan kami sudah terlalu jauh”, etiskah aku tanyakan ?
“Pada awal hubungan kami, kamu juga tahu Ra, sebagai partner di perusahaan yang sama, kami mempunyai ritme kerja yang sama, dia tipe pejuang, aku mengerti. Ada beberapa persamaan antara aku dan dia waktu itu, kami sama-sama single, mempunyai tujuan yang sama untuk perusahaan, dan kami punya banyak waktu untuk bersama. Hal-hal itu yang membuat kami tambah dekat, tapi sebagai laki-laki aku punya tipe wanita yang aku harapkan untuk menjadi istriku, dan itu bukan dia.”
“Mungkin kamu berpikiran aku mempermainkan Lisa, untukku maybe yes maybe not. Kenapa aku bilang tidak, dari awal kami tidak bicara tentang seperti apa hubungan kami, tidak ada tuntutan antara satu dengan yang lain, masing-masing punyak hak untuk jalan dengan yang lain tanpa persetujuan satu dengan yang lain, masing-masing tidak punya kewajiban untuk melaporkan atau menginformasikan apa yang dilakukan masing-masing, kami jalan pada saat ada kesempatan, tidak ada yang direncanakan, selama itu nyaman kami tidak pernah menutut lebih dan kami tidak masuk terlalu dalam ke urusan pribadi, misalnya anak atau keluarga. That’s all.
Ow seperti itu ya hubungannya, benar secara teori yang aku berikan kepada Lisa … seperti angina lalu.
“Kusebut Maybe yes, karena di antara kami ada yang bermain perasaan. Itu yang membuat Lisa bertanya kelanjutan hubungan kami. Aku tidak membela diri, tapi di satu sisi, aku kembali kepada pembicaraan awal, aku tidak berjanji apapun, dan tidak bicara tentang sayang atau cinta padanya, selayaknya seperti sepasang kekasih. Apa yang aku sampaikan kepada Lisa bahwa aku telah mempunyai seorang kekasih, yaitu kamu, ditanggapi Lisa biasa saja, tidak terlihat kaget atau ada penyesalan, namun sejak itu sifatnya menjadi posesif, seringkali dia menanyakan keberadaanku dimana. Jujur itu mulai mengangguku. Batas yang aku berikan kepadanya sudah cukup jelas sejak aku berhubungan denganmu.”
Jam menunjukkan 21.30, cukup lama kami disini, dan aku dengan pasrah mendengar semua pembicaraan Dave. Sampai kalimat terakhir Dave, aku masih bingung apa yang harus aku sampaikan. Pikiranku masih bergulat, bercabang, belum pada satu titik kesimpulan. Dengan kejadian ini, ada yang harus aku benahi dalam diri, tentang persahanbatanku dengan Lisa, mungkin akan terjadi perubahan … Tak mungkin aku konfirmasi tentang pembicaraan Dave kepada Lisa, sangat kekanak-kanakan kupikir. Tapi disisi lain, aku harus bisa menghalau pikiran-pikiran jelekku sendiri.
“Rara, aku perlu komentarmu.”
“Tak ada yang perlu dikomentari, yang ada adalah bagaimana aku bisa menerima ini dengan bijak. Membayangkan hubunganmu dengan Lisa sebelum dan sesudah aku ada. Dan memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Lisa setelah ini.”
“Tak perlu kamu bayangakan hubungan kami, aku lebih focus memikirkan hubunganku denganmu, melanjutkan rencana kita, tak lebih. Aku perlu kepercayaanmu sekarang, tak ada Lisa dalam hatiku, pikiranku, jadikan semua sebagai bagian masa lalu. Kita hadapi bersama persoalan tentang Lisa, jangan bergerak sendiri-sendiri. Tolong Ra, percaya aku.”
Sebenarnya aku punya pegangan dalam hubunganku dengan Dave, yaitu keluarganya. Dua keluarga sudah merestui hubungan kami dan sedang merencanakan pernikahan, tapi aku perlu pegangan lain dari Dave, untuk membantuk dalam menghadapi hal ini. Sabtu depan adalah penentuan tanggal pernikahan kami, mungkin itu.
“Dave, jujur aku sampaikan, sebenarnya berat sekali aku mendengar cerita ini, tak pernah terlintas dalam pikiranku tentang hubungan kalian. Tapi aku sedang mencoba memahami apa yang telah terjadi. Bantu aku untuk menghilangkan prasangka-prasangka yang tak baik tentang hubungan kalian dan kelanjutannya. Itu yang bisa membuat aku lebih percaya kepadamu.” Bicaraku lebih tenang, dan aku tak menyangka aku bisa tenang.
“Ra, biarkan aku disampingmu, agar semua prasangka itu hilang dari pikiranmu. Aku minta maaf, aku baru bisa bicara sekarang, pada saat yang tidak tepat.” Tangannya menyentuh pipiku, mengusapnya. Aku mengangguk pasti, dadaku sedikit lapang. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.  
“Sudah malam, pulang yuks…” ajakku.
Dave berjalan ke kasir, dan membayar tagihan. Aku melangkah mendahuluinya ke pintu keluar, udara sangat dingin.
Aku ingin cepat pulang, ada yng ingin aku tulis …
***
Dear Lisa,
Aku baru pulang dari Bali tadi sore, acara disana bikin bête, materinya masih itu-itu juga. Tapi aku sempat jalan juga sh ama Mona dan Frans nyuri-nyuri waktu hehe … dan sekarang, aku baru sampai rumah, aku langsung tulis email ini.
Lisa sayang, aku sudah bicara dengan Dave beberapa jam yang lalu, sesampainya aku di Jakarta. Ada yang ingin aku sampaikan mohon maaf aku tidak memberitahumu tentang hubunganku dengan Dave selama ini. Tadinya aku pikir akan jadi surprise buatmu jelang pernikahanku nanti, tapi justru aku yang dapat surprise :-D Aku baru bisa mengirim email ini, agar kita tidak miskomunikasi.
Aku menghargai hubungan kalian sebagai bagian masa lalu dari masing-masing, aku mengerti atas apa yang terjadi. Tidak ada yang bisa merubah persahabatan dan persaudaraan antara kita.
Sun sayang.
Rara
Jariku hampir menyentuh tombol sent di laptopku ketika suara dering pesan terdengar. Dering itu tidak aku kenal. Aku penasaran. Dua menit kemudian terdengar lagi, dua kali. Sumber bunyi datang dari dekat tas kerjaku. Kulihat iphone 5 tergeletak di dalamnya, lho ini kan  handphone Dave, kok  bisa ada di sini ? Keningku berkerut, kok bisa ? Duh, pasti terbawa sewaktu aku turun dari mobil, kupikir handphoneku. Suara pesan terdengar tiga kali berturut-turut. Jam 11.45, pesan dari siapa ?  Penting mungkin.
Kulihat layar handphone, kutekan passwordnya, kusentuh menu BBM, message terbuka, ada beberapa pesan di sana, kubuka pesan yang paling akhir, LISA :
“Darling,  sudah bobo?”
“Aq ga bisa tidur”
“Think of You a lot.”
“I love Casual, never ending between us, I love how you treat our relation”
“Miss you, nite-nite ..:-*
Badanku tersentak, tanganku bergetar. Kutarik nafas dalam-dalam, kuucap satu kata “CASUAL” … Kubuka laptop, kubaca ulang email untuk Lisa, kusorot mouse ke arah TRASH. Done …. Mampukah menghadapinya ????

Bersambung

#Catatan sahabat ini masih aku simpan, untuk aku urai menjadi sebuah cerita.