Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Friday, 19 August 2016

Adi Sasono, In Memorial


Adi Sasono
16 Februari 1943 - 13 Agustus 2016


Dear Bapak, 

Baru sempat aku tulis catatan tentang hari-hari berlalu yang telah aku lalui bersama Bapak. Bukan satu hal yang sulit untuk mengingat semua yang telah terjadi, aku harus memulai dari waktu 19 tahun yang lalu. Bisa menjadi buku yang berjilid-jilid sepertinya. 

Kemarin-kemarin, seakan tidak ada ide untuk menulis (biarkan orang lain dulu yang bicara dan menulis tentang Bapak), tidak ada semangat untuk melangkah ataupun melakukan sesuatu. Aku terlalu sibuk menghapus air mata yang kadang menetes tanpa terasa, merasakan langkah kaki yang mengambang dan kaku. Aku tidak boleh begini kan Pak ?  

Dan Selasa kemarin, pikiranku mulai sedikit jernih, aku mulai menerima apa yang terjadi. Kepergian Bapak tidak seharusnya menjadikan aku rapuh karena kehilangan sosok seorang Bapak, Guru, Panutan, partner kerja, sahabat, dan sekaligus tempat aku bercerita. Tapi harus diyakini, bahwa bekal yang telah aku terima selama ini,  ilmu, pelajaran dan pengalaman, harus membuat aku lebih tegar, mandiri dan percaya diri. Dan Bapak begitu yakin, bahwa aku mampu menghadapi semua persoalan dan menyelesaikannya dengan baik. Itu suatu tantangan.

Masih teringat dengan jelas ketika aku memulai profesiku sebagai notaris, meninggalkan sejenak hari-hariku bersama Bapak,  dan sekali waktu Bapak bertanya :

"Ren, jadi notaris itu untuk apa ? Biar bisa pasang papan nama di jalan ya atau biar dapat Lambang Garuda ?"  Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Dan aku jawab dengan polos, "Biar aku bisa buka warung, bisa mandiri, mengatur waktu sendiri ." 

"Kenapa tidak di Jakarta ?"
 "Di Jakarta sudah close Pak, dan Reina bisa pindah kalau sudah 3 tahun, itu pun kalau di Jakarta masih ada formasi."
"Ya sudah, kita lihat 3 tahun, dan pindah ke Jakarta lagi." 

Dan sekarang, 2 tahun 7 bulan, aku jalani Profesi Notaris, belum genap syaratku untuk pindah ke Jakarta, Bapak telah pergi.  

Satu hal yang tidak pernah luput dari ingatanku. Menjalani tahun-tahun di Jakarta, dan kembali ke Bandung, seolah-olah di Bandung networkku menjadi mati. Tidak ada yang dapat aku jajaki. Pada saat itulah aku minta tolong kepada Bapak, untuk menghubungi beberapa kolega di dunia lembaga keuangan untuk membantu memberikan kesempatan untuk kerjasama.

Apa yang Bapak sampaikan padaku waktu itu adalah :

"Saya yakin Rena bisa masuk ke link Saya, tanpa Saya memberikan surat atau wacana kepada Mereka. Pergunakan link Saya dengan baik dan amanah, sampaikan kepada Mereka, Salam dari Saya."

Rangkain kalimat itu  tegas, membuatku terpaku. Masa sih Bapak tega melakukan itu ? Sulit membayangkan, biasanya duduk manis pun mendapat gaji, sekarang duduk manis anak-anak ga bakalan sekolah, dan perjuangan baru pun dimulai..

Pantang bagiku untuk merengek kembali atas tolakan halusnya. Bapak yakin aku bisa, kenapa aku tidak ? Dan dalam perjalanan profesiku, client-clientku 70% berasal dari network yang telah  terbangun selama ini, notabene adalah link Bapak, dengan berbekal "Salam dari  Bapak"  Alhamdulillah... 

Ada prinsip yang Bapak ajarkan padaku. JADILAH WANITA MANDIRI,  jangan tergantung pada orang lain, tidak pada suami, dan tidak pada orang yang menggaji, berdoalah dan ikhtiar serta  berpikiran positif. Kalimat itu yang memicuku untuk lebih percaya diri.

#dari dulu Bapak memanggilku dengan "Ren", "Rena" padahal sudah berulang kali diingatkan, dan  Pak Misiran pun memanggilku "Mbak Ren".  

***

Bapak, seperti yang aku tulis di atas,  jika aku ceritakan semua, tulisan ini akan menjadi buku yang berjilid-jilid. Banyak yang ingin aku tulis, aku tidak ingin memulai dari satu hal yang besar, tapi dari hal kecil, kecil sekali, tapi begitu  dalam dan berarti. 

Ketika di Bulan Januari, 1997, aku mulai menjajaki Gedung BPPT LT 23,  sebagai hasil rekomendasi Moh Jumhur Hidayat, Priyo Budi Santoso, Ricky Rachmadi dan Tatat Rahmita Utami, untuk mendampingi Bapak (Many thanks for You All, gave me chance to be around You)Jujur, sedikit gentar  aku melangkah, mengingat sosok "Sang Ketua Dewan Direktur" yang terkenal tegas dengan ciri khas tersendiri di lingkungan kami. 

Ada seorang anak laki-laki di Lantai 23 itu, namanya Juli, seorang office boy yang bantu Bapak untuk menyiapkan keperluan di sana. Sebagai orang baru, aku harus belajar dan adaptasi dengan lingkungan baru. Di antara masa adaptasi itu, Bapak mengingatkan :


"Ren, Anda bisa belajar dari Juli, walaupun dia office boy, dia lebih dulu tahu dan mengerti tentang Saya dan lingkungan di sini." 


Itu adalah pelajaran pertama dari Bapak. Touch banget, memberi ilmu baru tentang hidup, bahwa kita dapat belajar dari siapapun.    


Aku selalu mengingat,  bagaimana cara Bapak memanggilku untuk ke ruangan Bapak  : "Ren, tolong ke kamar saya."  atau  "memerintah"ku untuk melakukan sesuatu, selalu dimulai dengan kata "tolong", itu memang perintah, tapi dengan kata itu aku merasa itu bukan perintah, bagiku itu adalah satu permintaan tolong untuk membantu Bapak.  Cara  yang membuat aku merasa dihargai. Dan jika semua sudah selesai, Bapak selalu mengucapkan : "Terima Kasih."   Kecil kan ? tapi memberikan arti, satu penghargaan. 


Di tahun pertama, aku belajar lebih banyak. Salah satu pelajaran penting adalah "menghargai orang lain". Pelajaran ini tentunya sudah aku dapat dari sejak aku masih kecil, dan aku sangat beruntung, bisa mendapatkan contoh nyata selain dari orang tuaku. 

Di sini ini, aku bisa melihat, bagaimana Bapak "memperlakukan" orang-orang di sekeliling. Tamu-tamu datang dari berbagai kalangan, semua diperlakukan dengan sama, sopan, santun, dan ramah. Menemui mereka dengan senyum dan  awal kata "Assalamu'alaikum"  atau "Apa kabar?" serta menjabat tangan dengan hangat. Atau menyapa orang-orang di lift, di tempat parkir, di rumah makan, di mesjid, atau ditempat-tempat lain dengan kata yang sama dan  jabatan tangan.  Itulah silaturahmi.

***

Waktu pun berjalan, 1,5 tahun berlalu sudah.  Di tahun 1998, satu kesempatan Bapak menduduki jabatan sebagai Menteri Koperasi  Usaha Kecil dan Menengah. Ada satu kalimat  diucapkan Bapak dalam pidato pertamanya di hadapan seluruh pejabat dan staf Departemen tersebut, "Apakah jabatan ini anugerah atau amanah?" Bagi Bapak, jabatan itu adalah Amanah, sebagai kewajiban yang harus dijalankan atas  kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.  Amanah, kata-kata itu yang  menjadi bekalku. 

Banyak yang aku pelajari disini, tentang Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Petani, Nelayan, dan hal-hal lain yang lebih berorientasi ke rakyat. Bidang yang pas buat Bapak. Dan dalam masa ini, hingga kini, aku lebih bisa mengenal orang secara pribadi. Mana teman yang datang karena "kebutuhannya" saja, dan mana teman yang "benar-benar teman", lebih jelas terlihat, sempat terucap tentang hal ini kepada Bapak, dan Bapak mengingatkan : Kita lahir berbeda antara satu dengan yang lain, hargai perbedaan, namun jangan ikuti perbedaan yang bisa merusak ahlak dan martabat. 


***

Bapak, ketika Bapak menawarkan aku untuk tetap di Departemen Koperasi atau pindah ke  Bio Farma sebelum serah terima jabatan di Departemen Koperasi. Dengan tegas aku menjawab, "Tidak, Saya ikut Bapak."  Jawaban itu meluncur begitu saja, aku tidak mempersiapkan jawaban karena pertanyaan itu tidak terlintas dalam pikiranku. Spontanitas terjadi karena aku merasa nyaman. Nyaman untuk terus bersama dengan Bapak. (jujur, tidak terbayangkan bagaimana kalau saat itu justru Bapak tidak mau aku dampingi  ? )

Bapak bertanya : "Anda mau berkantor dimana ?"  Aku bingung dengan pertanyaan Bapak. "Saya tidak punya kantor. Minggu ini kita berkantor di mobil saja, sambil cari kantor baru", lanjut Bapak sambil tertawa.  

Dan sisa waktu seminggu sejak tanggal 26 Oktober itu, agenda Bapak adalah silaturahmi, ke Kantor ICMI, Habibie Center, Republika, PT Techno Graha, PPA, juga  kunjungan ke para sahabat. Kita sempat berkantor di BNI 46, waktu itu Kantor Habibie Center (awal THC terbentuk).  Kemudian ke Kantor Ibu Dewi Soeprapto, PT Techno Graha, di Permata Plaza, JL. MH Thamrin.  Dulu Bapak pernah menjabat di perusahaan ini, dan melepaskannya ketika menjadi Menteri Koperasi.

November pertengahan 1999,  Bapak mengajakku ke satu gedung di kawasan Menteng, tepatnya Jalan Agus Salim 117. Satu tempat yang sangat strategis, dengan cat kuning. "Gedung ini milik Pak Jo, Saya diberikan kesempatan untuk berkantor di sini." itu gambaran yang Bapak berikan tentang gedung ini.
"Kok bisa Pak Jo memberikan kesempatan seperti itu ?"  tanyaku.
"Saya bersilaturahmi dengan Pak Jo, beberapa waktu yang lalu." jawab Bapak sambil tersenyum.  Alhamdulillah ... Back to Silaturahmi, arti, makna, dan hikmahnya.

Sejak Bapak berkantor disana, dan sampai hari ini, Kantor itu disebut dengan GEDUNG KUNING. Di sana lahir Yayasan Indonesia Bangkit. Gerbang Tani Makmur, Jaring Global Nusantara, Jaring Kedai Nusantara, Jaring Telematika Nusantara, dan lain-lain. Dari sana pelajaran dan pengalaman baru lahir, menjadi bekal hingga hari ini. (Dear Pak Jo, Bu Lies, personally, I would like to thank you very much, I got valuable lesson, knowledge and experience)

Aku ingat, ketika Bapak memintaku untuk menjadi salah satu calon legislatif di Partai Merdeka. Padahal Bapak tahu,  aku tidak tertarik dengan bidang itu dan tidak berambisi. Bapak  memintaku untuk masuk dan berkata : "turunlah ke masyarakat, saya tidak meminta Rena untuk "jadi", tapi untuk mendapatkan pengalaman bagaimana caranya  menyentuh rakyat, ketahui apa yang mereka butuhkan, dan bantu apa yang mereka butuhkan. Satu kunci utamanya adalah Ikhlas dan Amanah"   


***

Bapak, setiap hari Jum'at jika sholat Jum'at di Kantor (Di Gedung BBD Plaza), sebelum berangkat Bapak meminta aku mengeluarkan sejumlah dana dengan jumlah yang tidak sama. Dan setiap Bapak pulang sholat, selalu ada  yang mendampingi Bapak, kadang dengan orang yang lama atau orang baru. Dan sesampainya di Kantor, Bapak akan bilang : "tolong siapkan ya Ren, terima kasih". Aku mengerti apa yang disampaikan Bapak, dan menyerahkan titipan Bapak kepada mereka. 

"itu adalah kendaraan kita ke akherat." Kata Bapak. 

Mereka selalu datang, datang, dan datang lagi. Dengan orang yang sama, berbeda, bahkan membawa orang lain. Mungkin orang yang melihatnya akan bosan. Jujur, ada pula yang suka menggerutu (kenapa mereka menggerutu ?). Tapi Bapak akan turun mendatangi mereka jika sempat, mengucap salam, berjabat tangan, dan memberikan apa yang mereka perlukan atau memintaku untuk turun dan menyampaikan amanatnya.  Dihitung dari nominal, tidak seberapa, tapi aku melihat sinar mata kebahagiaan dari mereka. 

Suatu saat, aku pernah mendengar gerutuan seseorang tentang itu di saat aku tidak mendampingi Bapak. Aku paham, Dia tidak cukup mengenal baik Bapak. Itu saja. 

***

Bapak, ingat ketika aku bilang bahwa ada orang yang tidak jujur kepada Bapak ? Bukan karena aku menerima pengaduan orang, tapi karena aku yang mengalaminya. Aku kesal, marah, merasa dipecundangi (kenapa jadi aku yang marah ?). 

Bapak mendengarkan semua pembicaraanku, menanyakan dan mengomentari beberapa point. Dan ketika aku tanyakan apa yang akan Bapak lakukan, Bapak tersenyum, dan berkata  : "Biarkan saja, waktu itu dia  tidak amanah, Allah tahu apa yang harus dilakukan atas perbuatannya." Aku tertegun, speechless. How's coming ??? 

Dan ketika orang itu datang lagi berkunjung ke kantor, Bapak bersikap hangat dan tenang seperti biasanya, seakan tidak pernah ada pembicaraanku tentangnya. Bapak memperhatikan sikapku yang kurang manis dan menghampiriku dan berbisik : "senyum Ren, senyum itu adalah ibadah"  Huhuhu Bapak .... !!

***

2010 lalu, aku belajar banyak bertani, dan sekaligus menjadi petani. Tadinya kupikir, aku akan duduk manis menandatangani setiap perjanjian antara perusahaan dengan kelompok tani, tapi ternyata Bapak menguasakan pengurusan sepenuhnya untuk turun dan bertani. Padahal Pak, waktu itu aku juga kontrak dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang  fashion dan entertine (maaf aku tidak pernah bilang tentang ini). Dua bidang yang bertolak belakang.

Terbayang ketika aku harus belajar tentang bibit jagung, padi, kedelai, gandum, dan sorgum, belajar tentang pupuk organik dan non organik, tentang pestisida, membuat budget per hektar setiap tanaman, membuat cashflow dengan ribuan hektar, menghadapi para petani,  juga aparat desa dan pejabat instansi setempat . It's so amazing.

Bapak senang dengan usahaku mempelajari bidang ini, membaca, berhitung dan  berkomunikasi. Bapak bilang : "tentang pertanian dan komunikasi, banyak literatur yang bisa dipelajari, tapi berhadapan dengan petani dan aparat di sana, tidak seperti itu caranya. Sumbernya di diri kita, di Rena, bagaimana caranya agar petani merasa nyaman menyambut dan menerima kedatangan kita dengan senyum, bukan dengan spanduk penolakan."

***


------------> Next

Saturday, 28 May 2016

Temans, Ini Catatanku Akhir Minggu



Perubahan tanpa pembicaraan ini membuat aku tidak nyaman.
Aku tidak suka dibohongi walau sekecil apapun.
Jangan nodai hubungan kita dengan itu.
Karena bisa merubah seluruh pandanganku tentang dia.

Beberapa hari ini aku goyang, konsentrasiku buyar.
Hanya karena ini.
Menyebalkan !!

Mengapa dia menyembunyikan sesuatu ?
Apakah dia takut aku menjauh ?
Kenapa dia takut aku menjauh ?
Jujur memang kadang menyakitkan, tapi lebih baik.
Tidak akan kubiarkan dia merubah dan meninggalkanku tanpa kata, walaupun hanya karena komunikasi.
Bisa kau bayangkan ?

Jika dia meminta satu pertemuan, ada sebersit rasa bahagia yang aku rasa, karena aku mengharapkan itu.
Pembicaraan kami seolah tidak ada henti topik-topik berbeda.
Itu cukup bagiku.

Jika sesuatu  telah menunjukkan sesuatu yang janggal, seharusnya dia bisa bicara padaku.
Ketika ada pertanyaan tentang diriku, menurut dia biasa saja.
Tapi bagiku adalah hal yang luar biasa.
Mana ada yang mau membiarkan tatanan yang sudah terbina terusik begitu saja.
Apapun caranya, pasti akan menimbulkan pertanyaan.

Apakah kamu berpikir dia ada perasaan padaku ?
Apakah dia menyukaiku karena aku pintar, cerdas dan baik hati?
Aku wanita dewasa
Aku paham.
Dan aku telah mencuri waktu dia

Sepanjang aku bisa menjauh sebelum aku merasakan yang lebih dalam, ada baiknya aku menjauh pelan-pelan;
Menjauh  dari apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku;
Dia tidak akan mengungkapkan semua tentang dirinya.

Dan ketika aku mulai menjauh aku akan mengetahui apakah dia merasa kehilangan atau tidak ?
Ketika dia tidak merasa kehilangan itu sudah cukup buatku.
Aku mengerti.
Tapi ketika dia merasa kehilangan, dia akan mencari, dia akan bicara padamu
Itu pun cukup bagiku.
Dengarkan dia, dan jawab karena kamu tahu jawabannya.

Kamu bertanya mengapa selalu terjadi seperti ini ?
Karena ini perjalanan hidupku, yang kita tidak tidak  tahu dan mengerti kemana akhirnya.
Tahukah bahwa ketidaknyamanan ini sering membuatku berpikir, mungki aku lebih baik sendiri ?
Bebas rasa, meskipun rasa tidak dapat diabaikan.
Itu manusiawi

Coba aku atasi untukku sendiri, mencoba untuk berpikir lebih jauh.
Bantu aku untuk bisa mengatasi hal ini.
Jika aku tidak ada, cari tahu bagaimana pikiran dan persaaannya
Itu cukup bagiku.
Apapun jawabannya.

Aku yakin dia bisa mengatakan dengan bijak, seperti bagaimana dia memperlakukanku selama ini dengan kelembutan dan kedewasaannya.
Aku menyukai bagaimana dia memperlakukanku.
Kami bisa ambil langkah

Itu Pesanku     

#Dariblogsebelah     

@earlymorning


Saat ini, aku bisa menyimpan suasana hati, artinya logika lebih berperan; Aku melihat kondisi, realita, apa yang dilihat, dirasa, dipikirkan, semua aku pertimbangkan.

Perasaan yg paling sulit wanita ungkapkan adalah cinta... 
Tapi, wanita akan lebih cepat mengungkapkan rasa sakit.

Semua kembali kepada kodrat.

Kadang aku berupaya untuk tidak memperdulikan apa yang aku rasa, cukup aku nikmati.
Ketika diri merasa tidak kuat, aku ungkapkan dengan tulisan;
Ketika tulisan tidak terurai, aku terdiam dan menitikkan air mata membayangkan sesuatu yang tak tergapai.

Pada titik ini aku lebih memainkan perasaan dan  memainkan dua peran, untuk diri sendiri, juga  sebagai orang lain;

Tetapi ada kalanya aku berani mengungkapkan perasaan tergantung, seberani apa aku menerima resiko;

Ketika kenyataan menjadi resiko yang tidak diharapkan,  maka menata hati dengan membohongi diri yang sebenarnya tidak diinginkan, yaitu menjauhi apa yang dirasakan atau menapaki jalan dengan bersandiwara pada diri sendiri, bahwa semua berjalan dengan baik.

Dan aku akan sampai pada satu titik, titik kelemahan.
Di satu masa bahwa aku harus cukup memahami dan menyimpan perasaan sendiri.

aku ada salah kata ?


#earlymorning

Saturday, 7 May 2016

Masih Ada Langit Cerah



            Kakiku melangkah cepat, bahkan nyaris berlari kecil menurutku, memasuki aula dan menuju meja penerima tamu. Lalu lalang gadis-gadis cantik berseragam khusus meyakiniku bahwa aku tidak salah masuk ruangan. Di gedung ini ada tiga acara, sehingga aku harus memperhatikan dengan jelas apakah aku datang ke tempat yang tepat.
            “Vera!” satu teriakan di tengah alunan suara musik membuatku mencari sumber suara.  Pandanganku menemukan satu sosok wajah tidak banyak berubah, tetap cantik di usia matang. 
            “Riska!” aku membalas teriakannya. Sekonyong-konyong aku melangkah meninggalkan buku tamu yang seharusnya aku isi.  Tawa meledak di antara kami dengan pelukan yang saling mendekap. 
            “Kenapa baru datang?” tanyanya.  Aku tersenyum.
            “Seperti dulu, aku tidak rajin untuk datang ke acara terlalu dini.” candaku. “Sebentar aku isi dulu buku tamu, biar aku dapat jatah makan siang ya.” Kutuliskan namaku dengan lengkap, dan mencantumkan nomor telepon serta  membubuhi tanda tangan. Asti nama gadis penerima tamu itu, menyerahkan satu souvenir dan memandangku dengan menyelidik. Aku tersenyum. “Ada yang salah Mbak ?” tanyaku 
            “Ini Mbak Vera, pengarang buku?” tanyanya ragu.
            “Ya.” Jawabku. Semburat keceriaan sontak terlihat di raut wajah mungilnya. Tangannya mengambil sesuatu dari bawah meja, dan menyerahkannya kepadaku. “Boleh saya minta tanda tangan Mbak?”  Aku tersenyum, “Cerita Sahabat”, buku terakhirku, berada di tangannya, kububuhkan tandatangan dengan sebaris kalimat “Asti, thanks for reading my book, Love, Vera Justine.”  
            Ucapan terima kasihnya meluncur dengan cepat, aku tersenyum, meninggalkan Asti yang terus mendekap bukunya. 
            “Banyak yang datang Ris?” tanyaku. Kujejeri langkah Riska dengan cepat. Kedatanganku setelah acara makan siang, memang sangat terlambat. Mungkin ini jelang acara terakhir, tapi daripada aku tidak memenuhi undangan ini, terlambat lebih baik.
            “Lumayan. Dan kamu pasti akan surprise dengan teman-teman kita.”
            “Kenapa ? Banyak berubah ?” jawabku seraya tertawa. 
            “Faktor U ngaruh banget” kilahnya. Aku tertawa.
            Riska membuka pintu aula perlahan, mengintip ke dalam untuk melihat suasana.  
            “Ayo bisiknya.” Aku melongok ke dalam. Ampun, pintu aula ini menjadi pintu masuk utama dengan posisi di sebelah stage. Aku melihat para undangan duduk dengan rapi, dan semua pandangan terfokus pada acara yang sedang berlangsung. Aku yakin, siapapun yang keluar masuk dari pintu ini, pasti akan mengganggu konsentrasi mereka, melihat yang masuk, maupun yang keluar.
            “Ga ada jalan lain Ris? Gw bakalan jadi perhatian kalau lewat pintu ini.” 
            “Ada lewat taman, tapi jauh.  Sudahlah lewat sini aja, sekali-kali jadi perhatian di sini ga apa-apa.” ledeknya. 
            Aku enggan lewat jalan ini. Ada yang aku hindari dari pertemuan ini, aku tidak mampu menerima satu tatapan dari salah satu undangan ini, itu menjadi alasan mengapa aku datang terlambat. 
            “Bentar Ris, aku mau lihat daftar undangan.” Riska memandangku dengan tanda tanya.  “Mencari seseorang ?”  tanyanya dengan penuh selidik. Aku mengangguk. 
            “Dia ?” tanya Riska lagi. 
            “Iya.” Aku mengangguk pelan.
            “Aku tidak melihatnya dari tadi, atau mungkin di tidak datang.”
            Aku menghela nafas lega. 
            “Itu  yang membuatmu tidak mau lewat pintu ini.?” Aku menggeleng dengan cepat, menyembunyikan semburat merah dipipi. 
            Pintu aula terbuka sedikit, Riska masuk perlahan dan menarikku masuk. Benar, semua mata memandang ke arah kami. Terdengar tepuk tangan dan sorakan kecil memanggil namaku. Aku tersenyum, melambaikan tangan, dan berjalan ke meja kosong terdekat.        
            “Gila Ris, ini yang aku hindari, ga enak mereka semua melihatku datang begini telat.”
            Riska tertawa senang. “Teman-teman menunggu dari tadi, sempat kami telepon ke asistenmu untuk konfirmasi, syukurlah kamu bisa datang. Mau makan dulu ?” 
            “Aku sempat makan tadi. Minum aja.”
            Riska segera beranjak menuju stand juice. Mataku memperhatikan sekeliling, masih aku ingat beberapa wajah yang aku kenal, 50% aku harus berusaha untuk mengingatnya. Lambaian-lambaian tangan kubalas ketika tatap kami bertemu, aku tersenyum, dan memberi kode aku akan menghampiri mereka.  
            “Ver, abis sesi ini, kamu isi acara ya.”
            Aku terbelak kaget. 
            “Acara apa ?” 
            “Mestinya kamu di jam 11, tadi rolling dengan yang lain.”
            Alisku terpaut, heran. “Kayaknya aku ga lihat aku mesti isi acara.” 
            “last revision, kamu isi acara.”
            “Aku harus bicara apa ?”
            “Buku terakhirmu.”
            “Whaat?? Apa hubungannya dengan acara ini?” Aku sedikit gusar.            
            “Mereka suka, itu pun masukan dari teman-teman.” 
            Aku termenung sesaat. Di sini aku sama dengan teman-teman lain, temu kangen dan silaturahmi, bukan acara bedah buku, yang bisa menimbulkan opini dan sanggahan.  
            “Ris, please  ga usah. Aku tak mau merusak suasana jika di antara yang hadir tidak setuju dengan tulisanku, karena itu menyangkut hubungan pribadi, nanti malah jadi ga enak.”
            “Coba profesional, resikomu adalah menerima sanggahan dari siapapun dan dimana pun atas tulisanmu.”  Mataku mendelik kesal, mulutku terkunci. Kuteguk minuman dingin didepanku, hampir tersedak ketika seseorang menepuk bahuku. Satu ciuman kecil menyentuh pipiku  dari arah belakang.  Kuambil tisu dan melap sisa minuman di sudut bibir, dan menoleh kepalaku. Mataku terbuka lebar, dan hampir aku berteriak ketika ku sebut satu nama.
            “Putri ?” Aku berdiri dan merangkulnya. Sahabat kecilku ini menatapku dengan berkaca-kaca,  berapa lama kita tidak bertemu ?  
            “Vera, aku ga nyangka kamu bisa datang, dari tadi aku tunggu seperti menunggu seorang kekasih.” Senyumnya  melebar.
            “Aku sudah agendakan sejak dua bulan yang lalu, dan Alhamdulillah aku bisa. Duduk yuk” Aku menarik tas di atas kursi  dan menuntun Putri duduk di sampingku. 
            “Gimana kabar keluarga ?” 
            “Baik, gimana Bapak dan Ibu?”
            “Sehat Alhamdulillah … Aku udah punya keponakan, namanya Mimi.” Jawabku riang.
            “Kapan Kak Winda nikah ? umur berapa Mimi? “
            “Dua tahun yang lalu, baru dua bulan, lagi lucu-lucunya.” 
            “Hmmm, trus undanganmu kapan?”  mimiknya penuh tanda tannya. 
            “Sabarlah, aku masih enjoy.” 
            “Enjoymu berlebihan kaleeeee, asyik dengan inspirasi-inspirasi yang dituangkan dalam tulisan.”
            “No, aku punya plan kok, tunggu aja.”
            “Boleh aku nanya ?”
            “Yups.” Jawabku singkat.
            “What’s his name ? I knew that he’s different.”
            “Not yet, and will be then.”
            “Really, means that you have no relation with someone now ?”
            “No worry.” Aku tertawa. 
            Riska mendatangiku dengan tergopoh-gopoh ke arahku, bisikannya tepat di telinga kiriku membuatku merinding, dan mengangkat sedikit bahuku. 
            “Apaan sih ?”
            “Bagianmu bentar lagi !” 
            “Jadi ?” tanyaku
            “Jadilah non… siap-siap, waktumu 30 menit.” 
            Aku mengangguk. Mempersiapkan diri di acara publik yang nyaris tidak aku kenal adalah lebih mudah bagiku untuk lebih terbuka mengemukakan pendapat-pendapat, menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi buku itu, baik yang pro maupun yang kontra. Tapi di forum ini, 95% sedikitnya aku mengetahui mereka, aku merasa agak canggung, aku khawatir salah satu tokoh dari tulisan ini, ada di antara para undangan yang hadir. 
            “Salah satu teman kita, telah menjadi seorang Penulis dan mendapatkan penghargaan sebagai Penulis Muda Berbakat Indonesia 2015 kategori Favorite. Buku terakhirnya mencapai Best Seller pada penjualan bulan ketiga.  Bagaimana kita minta untuk maju ke depan untuk memberikan ulasan tentang buku terakhirnya ?” suara pembawa acara  disambut dengan tepuk tangan dan seluruh mata mengarah kepadaku. Aku tersenyum
             “Vera Kusumawardhani, silahkan maju.” 
            “Aku grogi Put.” Bisikku. Putri menepuk bahuku perlahan. 
            Aku berdiri dan melangkah. Aku tidak begitu suka menjadi perhatian seperti ini, begitu juga dengan acara-acara lain. Jika bukan karena pemberian penghargaan satu tahun yang lalu, aku tidak akan muncul di hadapan umum, cukup mereka mengenal satu nama yang kerap mengisi majalah-majalah dengan cerita fiksi, VERA JUSTINE. 
            Dion, menyerahkan mic kepadaku, aku mengucapkan terima kasih. Hening tiba-tiba seketika. Aneh, tiba-tiba aku kehilangan ice breaker
            “Assalamualaikum Wr.Wb. Terima kasih Dion, sudah memberikan kesempatan saya untuk bisa berdiri di mimbar ini. Terima kasih juga kepada panitia yang telah sukses menyelenggarakan temu kangen ini, dan saya senang bisa hadir dan bertemu dengan teman-teman semua, meskipun saya tidak tahu bahwa salah satu acaranya  saya harus berdiri disini.”
            “Menulis bukanlah hobi utama saya. Tak ada yang istimewa dari isi buku itu,  tulisan itu saya ambil dari beberapa riset baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dari beberapa literartur yang telah saya baca dan menjadi referensi. Penghargaan yang saya dapatkan, menurut saya adalah suatu berkah yang mana penyebab penjualan buku itu melejit karena banyaknya kontra dari para pembaca dan mengakibatkan perlunya buku tersebut dibedah. Mungkin di antara teman-teman ada yang pernah membaca buku itu ketika cetakan pertama keluar, cetakan kedua sudah banyak tambahan sebagai resume hasil dari bedah buku dan masukan-masukan lain.”
            “Mbak Vera, topik dalam tulisan itu sempat membuat dunia pers meminta untuk menarik buku itu. Apa sebenarnya yang menjadi ide dalam pembuatan tulisan ini?”
            Aku terdiam sesaat. 
            “Sesuai dengan prolog buku itu, dilatarbelakangi pertemuan seorang sahabat yang bercerita tentang hubungan dengan kekasihnya yang mana hubungan tersebut lahir tanpa komitmen, sedangkan kekasih sahabatnya  mempunyai kekasih lain, dan akan segera menikah. Hubungan tersebut dikenal dengan istilah “Casual Relationship”. Istilah ini sangat menggelitik pikiran saya untuk mengetahui arti sebenarnya.”
            “Apa yang menyebabkan dunia pers meminta untuk  penarikan buku itu dari publik?.” 
            “Ketika seseorang membaca suatu cerita atau suatu berita, dia punya hak untuk menilai makna apa yang terkandung dalam setiap isi cerita dan berita itu. Persepsi yang diterima pasti berbeda-beda, apalagi dengan isitilah “Casual Relationship” yang berlaku di Indonesia, mengacu pada pengertian negara lain. Mereka tidak mencoba menelaah, mengartikan, istilah itu dengan kondisi real yang mungkin terjadi di negara kita.”
            “Dunia pers mengganggap bahwa buku itu menjadi acuan dihalalkannya “free sex” di Indonesia. Bagaimana menurut Mbak?”
            “Betul, itu alasan utama penarikan buku itu. Ada satu kalimat dalam tulisan saya yang menjadikan mereka berkesimpulan demikian, dan mereka tidak mereferensi pada bab-bab berikutnya. Beberapa diskusi dan pembahasan yang saya ikuti, dengan didampingi beberapa orang ahli bahasa  akhirnya saya bisa mempertahankan keberadaan buku itu di publik.”
            “Baik, apakah dari floor ada yang ingin mengajukan pertanyaan tentang makna dari buku tersebut. Kami siapkan untuk 3 orang karena keterbatasan waktu?” Suara bisik-bisik menggemuruh. Dadaku sedikit berdebar, mataku mulai memperhatikan setiap sosok di hadapanku. Satu orang mengacungkan tangan dan berdiri. Aku kenal wajah itu, masih cantik seperti dulu, Atika.  
            “Ver, gue surprise ketika tahu kalau Vera Justine itu adalah kamu. Tulisan-tulisanmu gue baca, sosok yang dibentuk dalam setiap tulisan adalah seorang wanita yang mandiri, ulet, pintar, tegar dan tak gampang menyerah, namun sering mengalah. Cerita Sahabat memberikan inspirasi kepadaku untuk lebih berhati-hati dalam berhubungan, namun satu yang aku sesalkan, yaitu ending dari cerita itu menggantung. Apakah ada kelanjutannya? Gue jadi penasaran” Atika mengakhiri kalimatnya diiringi tepuk tangan.  Aku tersenyum.
            “Terima kasih Atika, senang bertemu denganmu lagi. Jujur, aku agak kesulitan untuk mengekspresikan sosok pria dalam setiap tulisanku, belum sepintar penulis lain yang mudah menciptakan sosok yang berbeda dalam tulisannya. Mungkin karena aku wanita, yang ingin mempunyai karakter mandiri, ulet, pintar, tegar dan tak gampang menyerah, seperti tokoh yang sering aku munculkan, namun “mengalah” disini aku garis bawahi, mengalah untuk kebaikan.” 
            “Tentang ending cerita, memang dapat dikatakan gantung, tapi pada intinya melepaskan diri dari satu hubungan yang tidak sehat seperti itu adalah jalan yang terbaik, bukan berarti tidak ingin mencoba untuk memperbaiki,  apa yang telah terjadi dalam hubungan itu adalah satu pelajaran dan dapat menimbulkan ketidakpercayaan setiap waktu. Hubungan yang dilandasi dengan ketidakpercayaan, tidaklah sehat, kerikil-kerikil yang menghambat di perjalanan, akan berubah menjadi gumpalan batu. Tidak semua orang bisa menerima hubungan seperti itu, dan dalam tulisan itu Rara lebih baik mengalah untuk pergi. Untuk pertanyaan apakah ada kelanjutannya ? Aku jawab : itu rahasia.” Aku tersenyum. 
            “Bagaimana Mbak Atika ?” 
            “Lanjutin aja Ver, Gue yakin Rara akan mendapatkan cinta sejatinya.”  Ucapan Atika disambut dengan seruan “Setuju” dari teman-teman yang lain. 
            “Terima kasih, nanti aku pikirkan, sementara ini aku cukup puas dengan keputusan Rara.”  Jawabanku disambut dengan uuuuuuuuu riuh dengan tepuk tangan. Aku tersipu dengan jawabanku sendiri. 
            “Ada yang lain  ? tanya Dion ke floor.
            Kulihat seorang laki-laki maju ke arah Dion, dan mengambil mic yang dipegangnya.
            “Sorry friends, gue maju, karena beberapa alasan. Satu, karena gue mau ukur tinggi Vera sekarang, gue bandingin ketika SMA dulu, dan ternyata ga banyak berubah, nambah 3 centi doang kayaknya, masih imut kayak dulu.”  Sorak sorai terdengar dengan tepuk tangan yang kian ramai. Duh, ini Bagja, anak IPA yang sering menggodaku dan tengil, tapi sering membuatku tertawa. 
            “Kedua, biar Vera bisa lihat gue yang sekarang dengan jelas,  gue yakin dia ga akan lupa ketengilanku dulu.” 
            “Thank you Bagja, gue info, tinggi gue nambah 5 centi, dan gue ga bakalan lupa dengan ketengilanmu dan ternyata loe tetap tengil.” Jawabanku membuat Bagja tertawa, aku yakin mukaku menjadi merah karena ketengilannya.
            “Jadi apa pertanyaan Mas Bagja? Tanya Dion menengahi.
            “Ga ada, gue cuma mau ngomong itu!” jawabnya seraya menyerahkan mic dan meninggalkan panggung. Teriakan dan tawa kembali meramaikan aula. Aku benar-benar tertawa, senang rasanya dengan suasana seperti ini, seolah kembali ke 10 tahun yang lalu. 
            “Baik satu orang lagi, ada yang mau ditanyakan?” Dion meredakan suasana. 
            “Ya, ada yang mau saya tanyakan”  Suara itu membuat hening tiba-tiba. Suara yang berwibawa, berbeda dengan yang lain. Aku nyaris tidak mengenal suara itu. 
            “Silahkan Mas.” Dion mempersilahkan laki-laki itu berbicara. 
            Mataku tertuju pada seorang laki-laki tegap di meja tengah. Jantungku berdetak cepat. Rasanya ingin lari meninggalkan aula itu. Laki-laki itu, Arman, yang aku selama ini aku hindari. 
            “Ver, apakah ada tulisanmu yang didasarkan pada pengalaman pribadi ?” tak ada tepuk tangan atau sorak sorai ketika pertanyaan itu selesai dilontarkan. Semua mata memandang kepadaku. Aku terkesima dengan pertanyaan itu, tak pernah aku bayangkan menerima pertanyaan seperti itu dari Arman.  Kucoba menetralkan diri dengan melambaikan tangan ke arah Arman.
            “Apa kabar Arman… Pertanyaannya bagus dan baru kali ini aku dapat. Satu cerita bisa dibuat dengan bersumber pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, atau sumber lain dan ide dapat muncul tidak bisa diundang, kapan saja, dan dari mana saja. Cerita yang lahir dari pengalaman pribadi akan menjadikan cerita itu menjadi lebih hidup, mengalir dengan alur yang pasti. Dari beberapa tulisan yang sudah aku buat dan sudah terpublikasi, tidak ada yang berdasarkan pengalaman pribadi. Itulah tantangan bagi seorang penulis, bagaimana dia bisa mengatur alur, karakter, dan bahasa dalam setiap tulisannya dengan tokoh-tokoh yang diciptakannya
            Tepuk tangan terdengar dengan meriah mendengar jawabanku. Arman tidak memberikan ekspresi apapun atas jawabanku. Matanya tertuju padaku, isyarat ketidakpuasan tertangkap dari tatapannya. Aku melepaskan diri dari tatapnya.
            Dion mengambil kendali acara. Aku pamit meninggalkan panggung dan kembali ke kursiku. Riska menyambutku dengan kicauannya.
            “Aku ga nyangka dia datang.”  
            “Masih ada kontak dengan Dia ? ” Aku menggeleng. Putri memberikan orange juice, tangannya mengelus bahuku dan berbisik : “Semua sudah berubah Ver, dia lebih dewasa, dia akan lebih bijak dalam bersikap.”
            Aku terdiam.
            Jam menunjukkan pukul 14.35, acara bebas dimulai, waktunya untuk bersilaturahmi dengan yang lain. Aku begitu surprise ketika panitia memberikan buku terakhirku sebagai souvenir. Dan pada akhirnya teman-teman meminta aku menuliskan sebaris kalimat yang berbeda di setiap  buku dan menandatanganinya. Bak ketemu fans, aku sibuk dengan itu. Ini kesempatan baik untuk bisa bercakap-cakap dengan teman-teman satu persatu. Komentar, usulan, dan pendapat aku terima dengan terbuka, aku memerlukannya untuk karya yang lebih baik di masa yang akan datang. Tapi, aku tidak menemukan sosok Arman di antara teman-teman tadi. Ah, kenapa aku peduli ? Bukannya aku hindari?
            Acara diakhiri dengan bersalaman, membentuk lingkaran hingga kami bisa bersalaman satu dengan yang lain. Tidak aku pungkiri, aku masih mencari sosok Arman, dan hingga detik ini, aku tidak menemukannya. 
            “Vera.” Aku mengangkat mukaku untuk melihat siapa yang menyapaku. Tubuh mungilku terlindung dari pandangan orang lain di balik tubuh tegap depanku. Senyum tipis laki-laki itu, menurutku begitu polos. 
            “Arman.” Senyumku terasa hambar. 
            “Apa kabar ?”  
            “Baik.” Jawabanku terdengar datar. Arman menuntunku ke pinggir panggung. 
            “Kita selesaikan dulu acara ini.” Aku menolak halus ajakannya. Arman membiarkanku pergi.  Sepertinya, orang-orang memahami kami, beberapa pandangan memperhatikan dan bisik-bisik mulai terdengar. 
            “Ris, kau pulang ama siapa?” 
            “Sama panitia pastinya, beres-beres dulu. Kenapa?”
            “Aku perlu orang buat pulang bareng.” Riska mengerutkan keningnya. 
            “Ada masalah ?” 
            “Ga, aku perlu untuk nemenin aku ngopi setelah ini.” 
            “Hmm, aku tahu. Coba aku rapikan ini dulu, kamu bisa tunggu aku sebentar.”  Aku mengangguk. 
            Acara selesai dengan sukses, memberi kesan, bahwa kebersamaan dapat terbina dengan silaturahmi dan komunikasi. Entah kapan ini akan terulang, mungkin satu dekade lagi dan teman-teman akan lebih banyak berubah. Aku tersenyum memikirkannya.  Aku melangkah ke sudut ruangan mencari tempat yang lebih sepi. Ah,  masih ramai sorak sorai teman-teman, aku tidak begitu menyukai dengan keramaian. Langkahku menuju kolam renang berukuran sedang di dekat taman. Gerimis turun pelan-pelan, dan aku melangkah cepat menuju ke sana. 
            Langkahku terhenti ketika kulihat sosok Arman duduk di antara kursi-kursi di pinggir kolam. Ingin rasanya aku berbalik, namun Arman sudah melihatku. Lambaian tangannya membuyarkan keinginanku untuk pergi. Aku mengangguk, dan melangkah ragu. 
            Aku mengambil kursi dan duduk disebelahnya,  bukan karena aku ingin dekat, tapi karena kau tidak mau menatap wajahnya. Kubakar sebatang rokok dan menghisapnya pelan. Arman menoleh.
            “Sejak kapan merokok ?” tanyanya
            “Sejak jadi penulis.” Jawabku dingin.
            Arman menarik nafas dalam-dalam, mematikan batang rokok ditangannya, dan menghadap kedepanku. 
            “Sejak kapan kau jadi penulis?” tanyanya. Pertanyaan yang tak perlu aku jawab. 
            “Ver, perlu aku ingatkan kapan kita bertemu terakhir ?” 
            Aku menggeleng dengan tegas. 
            “Perlu aku ingatkan syal biru yang kau berikan ketika kita mendaki?”
            Aku menggeleng lagi. “Aku tidak perlu kau ingatkan apapun tentang kita, aku masih mengingatnya semua.” Suaraku terdengar ketus. 
            “Artinya kamu masih ingat, kalimat apa yang aku ucapkan terakhir kita bertemu?” 
            Aku mengalihkan pandangan ke air kolam dengan rintik-rintik air hujan. 
            Aku ingat terakhir pertemuan terakhir dengannya dan aku ingat kalimat permintaan maaf yang tidak pernah aku jawab. Mengapa ketika aku mempunyai ide dan menuangkannya dalam rangkaian cerita pada buku terakhirku, aku bertemu lagi dengan dia ? pikirku. 
            “Ya aku ingat, dan aku telah memaafkanmu.” Aku berdiri dan meninggalkannya sendiri.
            “Vera!” teriakan Arman tak menyurutkan langkah Vera. Berjalan lurus, dan tak ingin berbalik. Arman menghenyakan badan ke kursi, tangannya kedua tangannya meremas rambutnya dengan keras. Pikirannya menerawang pada kejadian belasan tahun yang lalu. Penyesalan itu ada, dan tak dapat terelakan, bukan dia yang meninggalkan Vera. Tak seharusnya pertemuan ini terjadi, Arman berpikiran, Vera tidak akan datang di acara ini, apalagi sampai waktu makan siang, Vera tidak muncul. Seharusnya aku tidak mengajukan pertanyaan tadi, aku cukup menatapnya dari jauh, mengobati kerinduan akan seraut wajah yang selalu dirindukan. 



Bersambung