Monday, 24 August 2015

Kubaca Surat-Surat Almarhum Ayah dan Air Mataku Berlinang

Foto: copyright thinkstockphotos.com

Mendiang Ayah yang Penuh Kehangatan


Vemale.com - Kematian ayah terjadi dengan cara yang tak pernah aku duga. Ia meninggal pada usia 27 tahun. Ia masih muda, malah terlalu muda. Ayahku bukanlah seorang musisi ataupun orang terkenal. Tapi kanker tak pernah memilih korbannya. Ayah meninggal ketika aku masih kecil dan aku baru tahu apa itu pemakaman karenanya. Saat itu usiaku baru 8,5 tahun dan hingga kini masih merindukannya.

Ayahku adalah orang yang menyenangkan dan humoris. Ia juga penyayang yang selalu mencium keningku sebelum aku tidur. Ayah tak pernah bilang kalau ia akan meninggal. Meskipun ia terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selang di mana-mana, ia tak pernah bilang apa-apa. Hanya saja ia memberitahuku rencana yang ingin ia lakukan setahun ke depan, ia ingin pergi memancing, jalan-jalan, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Tadinya aku percaya rencananya akan terlaksana, hingga suatu hari ibu menjemputku di sekolah.

Aku dan ibu pergi ke rumah sakit. Dokter bilang ia sudah berusaha sebaik mungkin. Lalu ibu menangis. Ia sebenarnya menyimpan secercah harapan. Kemudian aku merasa marah, bukankah penyakit ayah adalah penyakit biasa, penyakit yang bisa disembuhkan dokter dengan satu suntikan? Aku berteriak penuh amarah di rumah sakit. Sampai ketika aku benar-benar menyadari ayah telah tiada, aku menangis.

Kotak Sepatu yang Berisi Banyak Amplop


Meski raga ayah sudah tak bernyawa, tapi napas kehidupannya masih bisa kurasakan. Seorang perawat mendatangiku dengan membawa sebuah kotak sepatu. Kotak sepatu itu berisi banyak sekali amplop. Aku awalnya tak mengerti sampai ia bilang, "Ayahmu memintaku memberikan surat-surat ini untukmu. Ia menghabiskan waktu seminggu penuh menulis ini semua dan ia ingin kamu membacanya. Tetaplah tegar."

Sebuah amplop bertuliskan "Ketika Aku Pergi" kubuka. Lalu aku membaca isinya.



Putraku,

Saat kamu membaca surat ini, Ayah sudah pergi. Maaf. Ayah sebenarnya sudah tahu kalau Ayah akan meninggal.

Ayah tak mau memberitahumu apa yang akan terjadi, Ayah tak ingin melihatmu menangis. Meski sekarang mungkin kamu sudah menangis. Ayah merasa kalau pria yang tahu dirinya tak akan berumur panjang boleh saja bertindak sedikit egois.

Namun, kamu tahu, Ayah belum mengajarimu banyak hal. Oleh karena itu, Ayah membuat semua surat ini untukmu. Kamu baru boleh membukanya di saat yang tepat. Oke? Ini adalah kesepakatan kita.

Ayah mencintaimu. Jaga ibumu. Kamu adalah kepala rumah tangga sekarang.

Penuh cinta, Ayah.

NB: Ayah tak menulis surat untuk ibumu. Ia sudah mendapatkan mobil Ayah.

Ayah malah membuatku berhenti menangis karena tulisannya jelek. Meski hati ini sedih, tapi aku bisa sedikit tersenyum. Aku kini tahu kalau kotak sepatu itu berisi banyak pelajaran hidup yang bisa mendewasakanku nantinya.

Ketika Aku Bertengkar dengan Ibu


Aku pun tumbuh menjadi seorang remaja. Aku dan ibu pindah ke rumah yang baru. Sepeninggal Ayah, Ibu mengencani banyak pria tapi tak ada satu pun yang bisa menjadi kandidat terbaik untuk menggantikan posisi Ayah. Tapi Ibu masih saja bergonta-gani kekasih. Aku marah. Aku kesal. Terlebih ketika Ibu menamparku setelah aku komplain dengan kekasih barunya.

Tamparan Ibu tak sesakit rasa perih yang kurasakan dalam hati. Dan saat itu aku teringat dengan kotak sepatu dan surat-surat almarhum Ayah. Kuambil sepucuk surat yang bertuliskan "Ketika Kamu Bertengkar Hebat dengan Ibumu."



Sekarang minta maaflah kepada Ibumu,

Aku tak tahu kenapa kamu bertengkar dan siapa yang benar dan salah. Tapi aku mengenal ibumu. Jadi minta maaflah dengan tulus demi menyelesaikan ini semua. Yang kumaksud minta maaflah dengan hati yang sungguh-sungguh.

Ia adalah Ibumu, anakku. Ia mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini. Kau tahu ibu melahirkanmu dengan penuh perjuangan? Pernahkah kamu melihat seorang wanita melahirkan? Masih perlukah kubuktikan cinta yang lebih besar dari itu semua?

Minta maaflah. Ia pasti akan memaafkanmu.

Penuh cinta, Ayah.


Ayahku bukanlah seorang penulis yang baik. Ia hanyalah seorang pegawai bank biasa. Tapi kata-kata yang ia tulis itu benar-benar menyentuh perasaanku.

Aku langsung pergi ke kamar ibu. Dan betapa terkejutnya aku karena ia menangis. Matanya memerah dan terlihat jelas dirinya pun ikut terluka. Aku merengkuh tubuhnya dan memeluknya, "Maafkan aku, Bu." Ia memelukku erat dan tak butuh kata-kata untuk membuat kami berdamai dengan perasaan masing-masing.

Ketika Aku Menikah dan Ibu Meninggal


Ayah selalu bersamaku hingga detik ini. Surat-suratnya selalu memberiku semangat hidup. Sampai kemudian aku menikah dan akhirnya punya anak. Sepucuk surat berjudul "Ketika Kamu Menjadi Seorang Ayah" akhirnya kubaca.


Sekarang kamu tahu apa itu cinta yang sebenarnya, putraku. Kamu akan menyadari cintamu pada istri sangatlah besar, tapi rasa cintamu pada seorang malaikat kecil di sana akan lebih besar lagi. Aku tak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan. Aku sudah menjadi mayat sekarang, bukan peramal nasib.

Bersenang-senanglah. Ini adalah sebuah keajaiban. Waktu akan berlalu, jadi pastikan kamu selalu berada di dekatnya. Kenangan tak akan pernah bisa terulang. Mengganti popok dan memandikan bayimu akan memberi pelajaran berharga. Jadilah panutan yang baik untuknya. Aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat, sepertiku. 


Waktu terus berjalan. Sampai sebuah kejadian paling menyedihkan dalam hidup kembali terjadi... Ibu meninggal.

Kubuka surat dari Ayah berjudul "Ketika Ibumu Meninggal". Dan surat itu adalah surat terpendek yang Ayah tulis sekaligus yang paling mengharukan. Hanya berisi tiga kata, tapi aku tahu Ayah pasti merasa sangat sedih dan terpukul saat menulisnya. 



Ibumu sekarang milikku.


Sebuah gurauan. Tapi aku yakin di balik nada bercanda itu, hatinya saat itu pasti terasa remuk.

Ketika Waktuku Tiba


Sungguh luar biasa. Aku sekarang menjadi seorang pria tua. Usiaku sudah melebihi usia mendiang Ayahku. Namun, kini aku terbaring di tempat tidur di rumah sakit yang sama dengannya dulu. Waktu sudah berlalu. Kini aku merasa tak berdaya.

Sepucuk surat berjudul "Ketika Waktumu Tiba" tergeletak di dalam kotak. Aku takut membukanya. Aku tak ingin meninggal terlalu cepat. Tapi kucoba kumpulkan keberanianku. Kutarik napas dalam-dalam dan membaca isi surat tersebut.



Hai, putraku. Kamu pasti sudah jadi pria tua sekarang.

Kau tahu, surat ini adalah surat paling mudah yang kutulis. Malah ini surat pertama yang kutulis. Ini adalah surat yang bisa membebaskan rasa sakit dengan bayangan akan kehilanganmu. Kurasa pikiranmu lebih jernih ketika kamu sudah sedekat ini dengan ajal. Mudah rasanya membahasnya.

Di hari-hari terakhir kehidupanku, aku memikirkan kehidupan yang telah kujalani. Kehidupanku sederhana tapi penuh kebahagiaan. Aku memilikimu dan ibumu. Apa lagi yang mau kuminta? Kalian telah membuatku bahgia. Sekarang lakukan hal yang sama.

Saranku untumu: kau tak perlu merasa takut.

NB: Aku merindukanmu


Ladies, kisah ini adalah kisah fiksi yang ditulis oleh Rafael. Ia pertama kali mempublikasikan cerita ini di medium.com dan mendapat sambutan yang hangat. Rafael mendapat inspirasi membuat tulisan ini ketika melihat putranya yang berusia sembilan tahun. Ia membayangkan putranya tersebut saat membuat kisah ini.
"Pada intinya, saya hanya ingin menulis sesuatu yang istimewa (dan karena istri saya menyuruh saya menulis hal ini juga). Saya tak menyangka kisah ini dibaca dan dibagi sekian banyaknya," papar Rafael. Meski ini bukan kisah nyata, tapi tetap saja banyak pelajaran yang bisa kita ambil darinya.

Sumber :  vemale.com

Saturday, 27 June 2015

Cinta Seorang Ibu


Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak
mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.
Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Pesan Cerita :

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni.
Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
Sumber : WSC

Sedekah Satu Juta Ibu Janda Itu Dibalas Tunai oleh Allah




SEORANG ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar Rp. 1 juta dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa Rp. 7 juta sekian.
Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.
Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.
Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya.
Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.
Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.
Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.
Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.
“Bu…, tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.”
Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, “Oalah… Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya.”
Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.
Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.
Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata “Subhanallah!” berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.
Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,
“Terima kasih ya Nduk… Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin… Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak… Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!”
Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata,
“Sama-sama bu… Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin….”

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah.
Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. 
Sumber : islampos.com

Saturday, 6 June 2015

KISAH CINTA (Kisah Inspiratif untuk suami yang mulai bosan dengan pernikahan)


Kisah Cinta Rumah TanggaKehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workoholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makanberdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya.

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat
tante Meisha ?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu;

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya,
karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat
Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak
pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan
aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak
bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima

Di surat yang lain ….

…Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha………

Disurat yang kesekian …

…Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya………

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini… …

…Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………

Jelita menatap Meisha, dan bercerita ;

” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”

Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Sumber : 9kontroversi

Friday, 15 May 2015

Bagian Kedelapan : "Diantara Kalian"



Tujuh tahun aku melewati waktu dengan satu keyakinan yang kadang aku ragu mengisi hariku bersama Angga. Sering aku bayangkan satu masa yang kami harapkan itu tidak akan pernah terjadi, namun selama ini aku halau dan mencoba untuk bisa meyakini diri. Sekarang ?  Perlahan namun pasti akhirnya kenyataan harus aku hadapi. Kenyataan pahit ? Bukan. Ini adalah satu perjalanan dan pelajaran hidup yang sangat berharga dimana aku membiarkan diri hanyut dalam satu hal yang aku sendiri tidak meyakini namun tetap aku jalani.  
Penat pikiranku, melayang pada kejadian-kejadian dalam dua tahun terakhir ini, mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi tanda akan perbedaan sikap dan rasa Angga kepadaku. Rasanya tak ada yang berubah, semuanya berjalan normal. Mungkin karena dari dulu kita mencoba menjaga sikap, berhati-hati dan menutup diri atau mungkin karena ……
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan pikiranku. Langkah-langkah kecilku bergerak lesu, dan membuka pintu. Kulihat seraut wajah lesu didepanku dengan senyum tipis. Kami tahu apa yang kami pikirkan. Aku menutup pintu tanpa suara. Angga duduki di tepi tempat tidur. Tanpa suara, kaku, tak biasanya.
“Sudah makan?”  Aku menggeleng.
“Kita makan dulu di bawah.”
“Ga usah Mas, kita pesan di sini saja. Aku pesankan ya.”
Angga mengangguk. Langkahku melaju ke pojok tempat tidur, meraih telepon putih, dan memesan makan malam.
“Mbak ga makan ?” tanyanya heran.
“Berdua aja, belum terlalu lapar.”
Aku duduk di sebrang  meja kecil, kami masih berdiam diri. Tanganku memainkan jemari satu sama lain. Bingung, harus mulai bagaimana ? Angga mendekatiku, pelan, bahkan sangat pelan, menyentuhku halus bak memegang porselin yang takut pecah. Wajahku tertunduk.
“Mbak, aku harus bicara.” Wajahku terangkat sedikit, menatap matanya yang tepat di depan mataku.
“Ya, waktu kita tak banyak.” Jawabku pendek.
Angga mengangkat wajahku lebih tegak. Kepalanya menggeleng cepat.
“Kita masih punya banyak waktu.”
Tak kumengerti apa maksud kalimatnya, tapi aku tak mencoba bertanya dan menentangnya.
Angga berdiri dan mengajakku duduk di tepi tempat tidur.  Aku mengikutinya. Saat-saat seperti ini yang aku rindukan, sebenarnya. Dan biasanya semua berawal dari sini, dengan cerita-cerita ringan, tertawa, saling menyentuh ….. Kali ini, tak ingin aku bayangkan …
Angga meraih bahuku dan menariknya dalam pelukan. Ada sebersit rasa sakit yang menyelinap, dan akhirnya mengiris, menumpahkan air mata dalam pelukannya. Angga mengusap dan mengecup rambutku berulang kali, mendekapku semakin erat. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Maafkan aku.“ bisiknya.
Kurenggangkan pelukannya, mataku mencari matanya. Angga tertunduk, tangannya meraih jemariku dan mengecupnya. Kutarik halus tanganku, Angga terdiam.
“Bicaralah. Aku hanya ingin mendengar semua darimu.”
Kami duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur. Rasa egoku sedikit bangkit, mataku memandang Angga dengan pandangan yang berbeda, menantang.
“Apa aku harus tanya ke Desi ?”  Kening Angga berkerut. Mukanya berubah kaku.  “Atau aku harus mengkonfirmasi apa yang Bapak ucapkan kepadaku tadi siang?”
Angga mengusap mukanya.
“Kesalahan pertamaku adalah membiarkan Mbak pergi …”  Angga memulai dengan pelan.
“Itu bukan satu kesalahan, itu adalah satu jalan.”
“Maksudnya ?”
“Kita tahu kenapa aku pergi dari sini, bukan karena kemandirianku, tapi karena kita mencoba untuk mencari aman.”
“Mbak, tak pernah aku pikirkan hal seperti itu.”
“Oya ? Bukannya dulu Mas ‘mengiyakan’ ?“
Angga terdiam.
“Dan ternyata semua menjadi ‘aman’ buat Mas.” Emosiku naik. Perasaan dikhianati tiba-tiba bergejolak. Angga menarik tanganku, kutepis dengan cepat.
 “Mbak, tidak begitu ceritanya, beri aku kesempatan untuk bicara.”  Angga berbicara pelan, mencoba menahan emosiku.  
Seraut wajah lesu didepanku tertunduk. Emosiku sedikit mereda. Kutarik nafas dalam-dalam, menenangkan diri.
“Baik, bicaralah.”
“Pembicaraan kami sekeluarga belum selesai. Semua sudah emosi. Dia datang dalam kehidupanku tidak berarti aku bersama dia. Pada saat pembicaraan kedua, Bapak keburu sakit, semua memprioritaskan Bapak. Sampai sekarang pun semua masih menganggap aku berhubungan dengan Dia.”
“Dia, siapa dia ?”
“Mona, anak buahku.”
“Bagaimana mereka bisa berpikir ada yang lain antara Mas dan dia kalau tidak ada yang bisa membuat mereka angkat bicara?”
“Kejadiannya karena masalah komunikasi.”
“Maksudnya?”
“BBM.”
“Yes, and then?”
“Dulu Mona tugas di Lampung, dan setahun ini dia ditugaskan di Jakarta.”
“Kira-kira enam bulan yang lalu, dia ada salah kirim BBM, tengah malam, waktu itu pas Desi membukanya, karena Mbak tahu antara aku dan Desi terbuka untuk hal-hal seperti itu, kecuali komunikasi kita.”
“Then …”
“Desi membalasnya, dengan bahasaku.”
“Isinya ?”
“BBM yang dikirim Mona, mesra, dan Desi membalasnya. Desi menghapus chat malam itu, tanpa bicara. Dan aku kena getahnya. Mona berubah sikap sejak itu, aku pikir karena dia anak baru, mencoba cari perhatianku, aku bersikap normal”
Aku terdiam.
“Antara aku dan dia tak pernah ada BBM mesra, sampai satu hari aku menerima pesan Mona di tengah malam.”
Angga menatapku.
“Aku bingung. Aku menjawab dengan sekedarnya, sampai di akhir chat dia memberikan symbol kiss, dan aku tidak pernah memberi tanda read dan membiarkannya.”
“Sesimple itu ?” tanyaku.
“Itu dua bulan yang lalu. Sampai pagi harinya, Desi menemukan dan melihatnya, dari sanalah kesalahpahaman itu terjadi, hingga akhirnya Desi bicara ke Ibu,  dan pulang ke rumah orang tuanya.”
Pembicaraan terpotong ketika room service datang dengan pesanan makan kami. Angga membuka pintu, mengambil makanan dan menyimpannya di meja kecil sebrang kami.  
“Makan dulu.”
Aku duduk tanpa berkata apa-apa. Nafsu makanku sudah lenyap sejak awal pembicaraan kami. Angga menarik tanganku dan mengecupnya.
“Tak ada yang bisa menggantikan Mbak dari hatiku.”
Aku masih tak bergeming dengan kekakuanku. Aku masih asyik dengan semua pikiranku sejak Pak Bambang bicara tadi siang.
“Makan dulu.” Balasku. Angga melepaskan tanganku, matanya masih begitu lekat memandangku. Aku mengambil sayur, dan mengunyahnya perlahan.
Sepertinya Angga juga mulai tak bersemangat makan, tangannya mempermainkan potongan kentang di piring dengan garpu. Matanya menatap kosong. Aku mengambil sepotong melon dan  mengarahkannya pada mulut Angga. Angga membuka mulutnya sedikit. Aku tersenyum kecil.
“Kurang besar bukanya.”  Angga menyeringai, dan mengunyah perlahan.
“Aku kangen Mbak. sejak kejadian itu yang aku takutkan hanya satu, Mbak mengetahui dari orang lain”
Aku diam.
Makanan utama tak disentuh sama sekali. Kami asyik dengan pikiran masing-masing. Suasana sunyi dan kaku masih menyelimuti.  Kuteguk sedikit air putih dan kembali menuju tempat tidur. Aku ingin tahu endingnya segera. Waktu sudah jam 8, Angga harus segera ke rumah sakit.
Angga berdiri dan melepaskan kancing kemejanya satu per satu, kemeja seragam itu dilemparkanya ke pelukanku pelan, kurapihkan dan kusimpan di sisi meja kecil. Kaos oblong putihnya masih terlihat rapi.
“Boleh rebahan ga ?” tanya Angga seraya meletakan kepalanya di pangkuanku. Aku mengangguk. Tanganku mengusap rambutnya.
“Lanjutkan ceritanya.”
“Desi di rumah orang tuanya 3 hari, Ibu memanggilku dan menanyakan persoalannya. Apa yang aku sampaikan berbeda dengan penjelasan Desi. Akhirnya Bapak dan Widi  turun tangan, berbicara denganku sebagai laki-laki.”
“Tak ada yang aku harus buktikan kepada mereka, karena aku tidak merasa ada hal-hal yang aneh dengan hubunganku dengan dia. Ibu, sebagai seorang perempuan, minta aku menunjukkan kebenaran. Pada saat kami bicara, tiba-tiba teleponku berbunyi, dari Mona. Event itulah yang membuat semua yakin, bahwa aku ada hubungan dengan dia. Aku tak bicara apa-apa, hanya satu yang aku harus selesaikan adalah mempertemukan Desi dan dia untuk bicara.”
“Sudah dilakukan ?”
Angga menggeleng.
“Kenapa?”
“Bapak memanggilku ke kantor beberapa hari yang lalu, bertanya, dan bercerita banyak. Disanalah Bapak menceritakan tentang Desi yang telah mengetahui hubungan kita.” Angga menatapku. Bibirku gemetar.
“Bapak sangat kecewa mendengar beritaku dengan Mona, dan memintaku untuk menyelesaikannya segera.”
“Menyelesaikan ?” keningku berkerut.
“Ya, salah satunya mempertemukan Desi dan dia.”
Aku tidak ingin membicarakan apa yang telah Pak Bambang sampaikan kepadaku tentang hubungan kami. Aku ingin Angga yang mengungkapkan apa yang diketahui Pak Bambang tentang kami.
“Sebelum aku berhasil mempertemukan mereka, Bapak keburu sakit, semua jadi pending. Mas Wibi marah”
Kuhela nafas panjang, memperjuangkan diri untuk bisa mengerti dan mempercayai apa yang aku dengar. Apa dengan begitu saja aku mendengar penjelasannya ?
“Dan aku tak menyangka Bapak akan membicarakan tentang hubungan kita, dan lebih tak kusangka ternyata Desi telah mengetahuinya sejak lama.” Angga meraih jemariku, dan mengusapnya. Matanya menatap lurus mataku. Aku salah tingkah.
“Bapak dan Desi memberikan restu untuk kita.”
Kali ini, aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Tak kurasakan kebahagiaan takkala mendengar semua itu. Kalimat itu yang dari dulu aku tunggu, dan hingga saatnya tiba, aku seolah tak punya rasa.
“Mbak, bicaralah.”
“Aku bingung Mas. Dikala kondisi seperti ini, semuanya terbuka. Apa yang aku takutkan selama ini seakan hampir terjadi di depan kita. Bagaimana aku bisa menghadapi orang-orang di sekitar kita?”
“Jujur Mbak, aku yang membuat aku gentar hanya satu.”
“Gentar ? Tentang apa ?”
“Menghadapi Mas Widi bila mendengar semua ini.”
“Aku gentar pada semua orang, aku tidak bisa memegang kepercayaan yang telah diberikan selama ini.
“Ini tentang rasa, Mbak. Alami, tak bisa diundang dan tak bisa dielakkan. Tapi menghadapi Mas Widi,  aku belum tahu bagaimana aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nanti”
“Aku ga ngerti, kenapa Mas gentar menghadapi Mas Widi?’ Keningku berkerut.
“Mbak ga ngerti ?” tanyanya berbalik. Aku mengangguk pasti.
Sekarang, Angga yang menghela nafas. Diraihnya bahuku, dan didekap erat.
“Kenapa sih?’
“Mbak ga tahu perasaan Mas Widi?” bisiknya.
Aku tersentak, ada sedikit gusar dalam pikiranku. Mungkinkah ?
“Maksud Mas ?” berdebar aku menunggu jawaban Angga.
“Perasaan Mas Widi sama denganku, ada keinginan untuk bisa memiliki Mbak?”
“What??” Aku merenggangkan pelukan Angga, dan menatapnya.
“Apa yang Mas Widi ceritakan pada Mas ?” Kali ini aku mencoba untuk mengingat tentang beberapa kalimat yang pernah Mas Widi ucapkan padaku. Dulu … sebelum Angga datang.
“Kami berbicara sebagai laki-laki, sebagai saudara kami benar-benar terbuka dalam segala hal. Sejak kecil. Setelah Mbak pindah, keluarga banyak cerita tentang Mbak.”
“That’s nothing special…” Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Sebelum kami berdua berbicara, semuanya biasa saja memang, tetapi dalam kesempatan lain, kami sempat bicara banyak, dan akhirnya Mas Widi bercerita tentang Mbak, dan perasaan dia.”
Waktu aku pergi, itu dua tahun yang lalu. Tak mungkin Mas Widi masih menyimpan semua rasa itu sampai dua tahun yang lalu.
“Perasaan bagaimana ?” tolol pertanyaanku.
“Hmmm, you are a mature woman, baby,  you should understand. I can’t tell you anymore, coz that’s sometimes make me jealous.” Angga tertawa kecil. Tanganku memukul perutnya.
“So,  how’s your feeling for him?”
“Aku ga mau bicara tentang ini, urusan kita masih banyak. Jangan coba mengalihkan pembicaraan.” Aku berdiri ke arah meja, dan mengambil segelas air putih. Badanku berbalik dan memberikan isyarat untuk mengajaknya minum. Angga menggeleng.
“Jadi bagaimana kesimpulannya tentang Mona?” Aku mendekati  Angga dan memberikan segelas air putih. “Aku hanya perlu itu sekarang.” lanjutku
“Mbak perlu tahu lebih banyak, kita harus segera mencari jalan keluar, tidak hanya tentang Mona.”  Jawabnya cepat.
“Kita bicarakan satu-satu.”  Kunaiki tempat tidur dan duduk dengan kaki bersila. Tanganku bertopang dagu, memperhatikan Angga yang kelihatan lebih tenang. Jam telah menunjukkan 20.15. Bagaikan cinderela yang menunggu jelang tengah malam, berhitung dengan waktu..
“Antara Mona dan aku, tidak ada hubungan yang lebih, cukup sebatas antara hubungan kerja. Kesalahpahaman yang terjadi menurutku bisa aku selesaikan dengan segera, mengatur waktu untuk bicara dengan Desi dan Mona.  Yang ingin aku tekankan disini adalah, apa yang aku sampaikan adalah yang sebenarnya. Dari beberapa waktu yang lalu aku ingin cerita, tapi aku takut kesalahpahaman akan semakin melebar. Maafkan aku.”
Ketika perasaan ragu mulai menghampiri beberapa waktu yang lalu, tak pernah terlintas sedikitpun tentang hal ini, kepercayaanku terhadapnya cukup tinggi, mengingat beberapa rintangan di depan kami yang cukup akan menjadi sandungan dan kerikil dalam perjalanan.
 “Aku tidak bisa menghakimi Mas tentang hal ini, mendesak Mas untuk bercerita lebih banyak karena tanggapan keluarga sudah lebih dari yang Mas bayangkan. Namaku muncul di antara Bapak dan Mbak Desi dalam suasana ini, membuat aku sedikit tidak leluasa untuk melakukan hal-hal yang rutin di sini. Mas memang harus menyelesaikan segera, terutama untuk Mbak Desi dan Bapak, sementara. Tentang kita, sepertinya kita harus menunggu sampai Bapak sehat. Apakah Mbak Desi sudah bicara tentang kita ?”
Angga menarik tanganku dan mengecupnya, tersenyum. Aku tak mengerti arti senyum itu. Satu anggukan kecil Angga membuat aku sedikit berdegup.
“Kami sudah membicarakannya. Jujur, aku kaget ketika Desi membicarakan tentang itu. Tak pernah aku bayangkan bahwa dari Desi sendiri aku mendengar seberapa jauh dia mengetahui hubungan Kita. Dan aku tidak bisa mengelak, mengelak sama dengan aku membohongi kita, aku tak mau bohong, meskipu aku tahu bahwa itu menyakiti dia.”  Angga terdiam sesaat. Hening. Aku mengerti apa yang Angga pikirkan dan rasakan.
“Dan kami sempat tidak banyak bicara, bicara seperlunya, mencoba untuk menetralisir suasana di rumah, dihadapan anak-anak. Kejadian yang beruntun membuat kami benar-benar beku. Hampir seminggu. Akhirnya kami mencari waktu untuk lebih bisa bicara banyak,  mencoba untuk saling mengerti. Aku mengerti perasaan Desi yang terkhianati.”
“Point apa yang bisa aku tahu dari pembicaraan Mas dengan Mbak Desi tentang kita ?”  Antara siap dan tak siap aku mendengar jawabannya, karena dari jawaban ini ada dua jalan yang harus aku pilih, dan tak berubah.
“Desi memintaku untuk menikahi Mbak.”
That’s the point!!!  Wajahku tertunduk dalam, mencoba mencari kata-kata yang bisa aku sampaikan. Angga merengkuhku perlahan, mengusap rambut-rambut kecil di dahiku. Apa yang kami bayangkan terjadi juga … Dimana aku harus menghadapi orang-orang disekitar kami, menerima tatapan mata bertanya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang   intinya “bagaimana bisa??””
“Dan aku akan menikahi Mbak.”  
Tak ada air mata yang dapat kutahan lagi, semua terbuncah di kemeja putih Angga. Entah air mata kebahagiaan atau kesedihan, tak jelas, namun aku bisa merasakan bagaimana kegalauan hati dan pikiranku, bak buah simalakama. Angga mendekapku erat, tanpa kata, seakan hati kamilah yang berbicara seakan bisa lebih jujur.

Bersambung …